HUBAYA-HUBAYA!!! MOHON MAAF... UNTUK KALI INI, PERMINTAAN CD DAN DVD ISO LINUX TIDAK BISA DIPENUHI UNTUK SEMENTARA WAKTU... SEKIRANYA ADA KEMUNGKINAN UNTUK MEMENUHI PERMINTAAN, AKAN DIUMUMKAN LEBIH LANJUT... TERIMA KASIH DAN MOHON MAAF UNTUK YANG TELAH MEMESAN ISO LINUX... HARAP MAKLUM... TABIK...
Tampilkan postingan dengan label jahil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label jahil. Tampilkan semua postingan

Sri...

Tulisan ini bukannya mau membahas tentang Sri Mulyani Indrawati, sang mantan Menteri Keuangan yang kini menjabat sebagai Direktur Pelaksana Bank Dunia. Bukan juga mau membahas tentang sebuah tembang campursari khas Jawa yang liriknya "Sri, kapan kowe bali...". Kali ini aku mau membahas tentang sebuah fenomena khas orang Melayu yang sering menggunakan sebuah kata untuk maksud "penghormatan" atau "pengagungan". Kata itu adalah sri (biasa juga ditulis dengan seri).

Menurut Wikipedia, SRI (atau juga biasa ditulis dengan seri, shri, sree, shree) adalah kata dalam bahasa Sansekerta yang secara harafiah bermakna "memancarkan cahaya". Belakangan kata ini berkembang menjadi sebuah gelar penghormatan kepada dewa-dewi (contoh : Sri Krisna, Sri Indra), para tokoh spiritual, dan juga orang-orang terhormat.
Kita tahu sama-sama bahwa sejak agama Hindu dan Buddha masuk ke Nusantara, banyak aspek-aspek kebudayaan India yang mulai masuk kemari, salah satunya adalah penggunaan kata "Sri" ini.
Di Nusantara, beberapa tempat menggunakan nama Sri. Misalnya Bandar Seri Begawan, ibukota Negara Brunei Darussalam. Di Malaysia ada Sri Aman (Sarawak), Sri Gading (Johor), Sri Petaling (Kuala Lumpur), Bandar Sri Damansara dan Seri Kembangan (Selangor). Istana Yamtuan Besar Negeri Sembilan terletak di Seri Menanti.
Di Indonesia mungkin tidak terlalu umum, tapi ada juga seperti Bandar Seri Bentan dan Seri Kuala Lobam di Pulau Bintan, dan juga beberapa pelabuhan seperti Sri Bintan Pura (Tanjung Pinang), Bandar Sri Udana (Tanjung Uban, Bintan), dan Bandar Sri Laksamana (Bengkalis).
Beberapa tempat yang sebenarnya tidak memakai "Sri" biasa diberi gelar "Sri", terutama dalam lagu-lagu Melayu, seperti Sri Mersing, Sri Langkat, Sri Kedah, dan sebagainya.
Di luar nama tempat, beberapa "benda" juga memakai gelar "Sri". Kereta api jurusan Yogyakarta-Banyuwangi memiliki nama Sri Tanjung, begitu juga dengan KRD ekonomi di Medan yang memiliki nama Sri Lelawangsa. Di Riau ada dua stasiun televisi lokal dengan nama "Sri", yaitu Sri Gemilang TV (Indragiri Hilir) dan Sri Junjungan TV (Bengkalis). Di Malaysia ada grup hotel bernama Seri Malaysia. Ada juga rumah makan di Palembang yang bernama Sri Melayu. Masih banyak lagi contoh-contoh lainnya.
"Sri" juga biasa digunakan sebagai gelar untuk raja atau pemimpin. Raja Sunda (Pajajaran) yang ke-35 bergelar Sri Baduga Maharaja. Raja Majapahit yang ke-4 bergelar Sri Rajasanagara, walaupun orang ramai lebih mengenal nama aslinya yaitu Hayam Wuruk. Pendiri kerajaan Sukhothai (Siam) bernama Sri Indraditya. Dua raja dari Kerajaan Khmer (Kamboja) juga memakai gelar "Sri", yaitu Sri Jayawarman dan Sri Indrawarman.
Di masa modern, Raja Malaysia bergelar Seri Paduka Baginda Yang Dipertuan Agong, demikian pula dengan permaisuri bergelar Seri Paduka Baginda Raja Permaisuri Agong. Raja Mataram-Islam yang berkedudukan di Yogyakarta bergelar Sri Sultan Hamengkubuwono, manakala yang berkedudukan di Surakarta bergelar Sri Susuhunan Pakubuwono. Tidak lupa pula, banyak umat Kristen Katolik di Indonesia memanggil pemimpin tertinggi di Vatikan dengan gelar Sri Paus.
Uniknya, di kalangan masyarakat Jawa nama "Sri" tidak semuanya identik dengan "penghormatan". Kata "Sri" akhirnya identik dengan nama perempuan. Contohnya ya mantan menteri keuangan kita itu, Sri Mulyani Indrawati. Kita juga pernah punya menteri pemberdayaan perempuan bernama Sri Rejeki Sumaryoto. Masih banyak lagi Sri-Sri yang lain, termasuk salah seorang tanteku.
Dewi padi bagi masyarakat Jawa adalah Dewi Sri.
Tidak hanya perempuan, laki-laki pun ada juga yang memiliki nama "Sri", contohnya Sri Bintang Pamungkas.

Tulisan ini bukan bermaksud apa-apa, cuma iseng saja. Tapi mudah-mudahan bisa bermanfaat, terutama bagi kamu yang memang ikut penasaran seperti aku tentang fenomena kata "Sri" ini.
Tabik.

Kamen Rider

DIA PUN MULAI MENGELUARKAN JURUS

DAN INILAH JURUSNYA!!!

Sumber : forum internet

Kasus Baru Detektif Conan

Sumber : dari forum internet




Yoyo & Cici

Pengguna internet mungkin sudah sering mendengar nama ini. Ya, Yoyo dan Cici. Mereka berdua adalah anak monyet yang lucu dan akhir-akhir ini menjadi emoticon di berbagai blog atau forum.
Orang-orang yang melihat mereka berdua pasti akan merasa gemas akan kelucuan dan "imut-imut" mereka. Senarai lengkap emoticonnya bisa dilihat di laymark.com. Sebenarnya dulu ada laman khusus untuk mereka, yoyocici.com, tapi entah kenapa laman tersebut tak bisa diakses lagi.
Sebenarnya banyak macam emoticon yang beredar internet. Ada Tuzki, Onion Head, Mashimaro, Baby Soldier, tapi menurutku yang paling comel, paling lucu, dan paling enak dipakai tetaplah Yoyo dan Cici.

Siapa pastinya pembuat Yoyo Cici, aku tak tahu. Tapi mesti orang dari Republik Rakyat China. Tidak hanya Yoyo Cici sebenarnya, emoticon lain seperti Tuzki dan Baby Soldier pun dibuat oleh orang China. Dalam bahasa Mandarin, Yoyo dan Cici biasa disebut dengan "悠嘻猴" (yōu xī hóu). "悠" adalah nama Yoyo dalam bahasa Mandarin (悠悠, yōuyōu), "嘻" adalah Cici (嘻嘻, xīxī), sedangkan "猴" artinya "monyet".
Oh iya, mereka juga tidak hanya tampil melalui emoticon dan gambar, tapi juga dibuat video animasi pendek sebanyak 7 episode, masing-masing berdurasi sekitar 2 menit. Dan di video ini, mereka tidak cuma berdua, tapi ada kawan-kawan mereka yang lain seperti Mr. Pig, Muji, dan sekumpulan itik.

Wanita Berambut Panjang dan Berambut Pendek...

Salah satu daya tarik daripada seorang wanita ialah rambutnya. Rambut, yang awalnya berfungsi sebagai pelindung kepala dari panas terik dan juga benturan (terutama bagian otak), kini menjadi perlambang kecantikan dan mungkin juga sifat dari manusia, terutama wanita yang memang memiliki berbagai macam model rambut.
Kalau di masyarakat Asia, termasuk Melayu, rambut yang cantik bagi seorang wanita adalah rambut yang hitam panjang, lurus, dan berurai. Nyatanya sekarang rambut tidak melulu hitam dan panjang. Sekarang sudah banyak wanita yang beralih ke model rambut pendek, dan warnanya pun tak selalu hitam. Ada coklat, merah, jingga, yang ekstrim macam biru atau hijau pun ada.
Rambut lelaki memang cenderung pendek, walaupun rambut panjang juga sudah mulai disukai. Bagaimana sejarahnya rambut lelaki umumnya pendek dan rambut wanita umumnya panjang, aku tak tahu. Tapi yang pasti, itu berkaitan dengan budaya tempatan. Sama saja seperti di militer dan kepolisian, wanita harus berambut pendek, sudah ada peraturannya. Begitu juga dengan laki-laki Sikh, tidak boleh memotong rambut, cambang, dan kumis. Itu semua berakar dari tradisi.

Sebenarnya aku menulis postingan ini karena ingin tahu saja, model rambut wanita seperti apa yang disukai oleh lelaki. Dan ternyata menurut observasiku sendiri, entah di dunia nyata ataupun di dunia nyata, perbandingan antara lelaki yang menyukai wanita berambut pendek dan berambut panjang hampir mendekati 50:50. Jadi selera lelaki memang beragam. Selain itu, aku sudah cerita bahwa ketika aku berkunjung ke Singapura beberapa waktu lalu sepertinya perempuan di sana mulai mencoba berbagai macam model rambut, terutama rambut pendek. Dan perempuan berambut pendek agaknya makin banyak di Singapura. Bukan hanya di Singapura, tapi di serata dunia termasuk Indonesia.
Oke, kita mulai dari wanita berambut panjang. Wanita berambut panjang selayaknya memiliki kesan anggun dan lemah lembut. Memang tidak semuanya, karena wanita berambut panjang yang tomboy pun ada. Tapi kebanyakan memang melahirkan kesan anggun. Selain itu, wanita berambut panjang juga terkesan girly atau feminin, sifat kewanitaannya nampak sekali. Karena itu, wanita berambut panjang cukup pas apabila memakai pakaian seperti gaun, atau blus dengan bawahan rok, karena pakaian tersebut agaknya cukup feminin. Tapi karena rambut panjang pada wanita sangat "umum", maka mau memakai apapun mereka pun sesuai.

Wanita berambut pendek memiliki kesan dinamis, aktif, dan liberal. Artinya wanita tersebut cukup banyak pergerakan dan tidak terbatas oleh hal-hal yang biasanya sangat membatasi wanita. Ada kalanya wanita berambut pendek juga terkesan tomboy, tapi tidak selalu. Tomboy ataupun girl tidak selalu nampak dari rambutnya, pendek atau panjang.
Karena itulah rambut pendek juga biasanya identik dengan pekerjaan yang banyak menuntut gerak seperti aktivis, atlet, pekerja lapangan, ataupun pekerjaan lain yang sudah lama didominasi oleh lelaki. Dan pakaian yang sesuai bagi mereka adalah pakaian casual atau keseharian seperti blus atau kaus dengan celana panjang atau pendek. Rambut pendek, terutama yang pendek sekali dan di atas leher, tidak pas dipadukan dengan pakaian gaun rok, kecuali rambut bob mungkin masih bisa dipadukan.
Secara pribadi, aku lebih menyukai wanita berambut pendek daripada wanita berambut panjang. Kesannya seksi dan elegan kalau aku melihat wanita berambut pendek. Entah sejak kapan aku menyukai wanita berambut pendek, tapi memang rambut model seperti itu sangat cantik di mataku. Tapi jangan rambut yang sangat pendek seperti laki-laki, rambut seperti itu kurang enak dilihat. Setidaknya sebatas leher lah, lebih panjang sedikit dari rambut laki-laki kebanyakan.
Lebih cantik lagi kalau ujung rambutnya menyebar ke luar dan agak sedikit jabrik. Mungkin seperti model rambut Cagalli Yula Athha di Gundam Seed. Ujung rambut ke dalam seperti model bob kebanyakan pun tak kalah seksi.

Tak suka keduanya??? Masih ada model rambut yang lain, yaitu rambut sedang. Tak pendek, juga tak panjang. Banyak orang Indonesia bilang rambut sebahu. Ini sebagai alternatif. Kalau menurutku, wanita dengan rambut sedang sifatnya bisa macam-macam. Dia bisa kemayu, tapi bisa juga aktif dan agresif. Sepertinya semua sifat ada. Tapi kalau menurutku sendiri, model rambut seperti ini kesannya tanggung-tanggung. Si pemilik rambut bingung, mau pendek atau mau panjang. Mestinya kalau panjang, panjang sekalian. Kalau pendek, pendek sekalian, habis perkara.
Masih tak suka juga model rambut yang ini??? Jangan-jangan ada yang senang dengan wanita botak. Ah, janganlah. Entah kenapa aku lihat tidak ada kesesuaian pada wanita berkepala botak. Kalau lelaki, bolehlah. Kalau wanita??? Yang ada malah mau buat aku ketawa lihat dia.

Oh iya, bagaimana dengan warna rambut??? Aku senang dengan wanita yang berambut warna coklat atau merah, ada nampak kesan seksi dan elegan. Lebih cantik lagi kalau warna rambutnya campuran antara hitam dan kuning atau coklat muda, cantik sekali.
Dan warna rambut seperti itu pas untuk kulit orang Melayu yang kuning langsat dan agak kecoklatan. Blonde (rambut kuning)??? Kurang pas, kalau orang putih bolehlah. Apalagi warna-warna rambut yang terlalu ekstrim macam rambut perempuan-perempuan di anime Jepang, merah jambu atau biru laut misalnya, tak sesuai untuk orang kita.
Yang pasti, untuk para wanita, peliharalah rambutmu sebaik-baiknya karena rambut termasuk mahkota yang dapat memikat hati para lelaki. Dan jangan lupa, jangan terlalu mengutak-atik rambut, nanti cepat rusak. Hati-hati juga memakai cat rambut, salah-salah nanti bisa terkena penyakit.

Dilema "Keistimewaan" Yogyakarta...

Sampeyan Dalem ingkang Sinuhun, Ke Bawah Duli Yang Maha Mulia Tuanku Paduka Sri Sultan Hamengkubuwono X, saat ini tengah dilanda kegusaran yang cukup pelik. Tuanku, seorang Sultan daripada Kesultanan Yogyakarta yang juga menjabat sebagai Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), saat ini dikhawatirkan kehilangan pangkatnya sebagai gubernur daerah itu. Bagaimana tidak, beberapa hari silam ada rumor berhembus bahwa Presiden SBY meminta agar di Yogyakarta diadakan pemilihan gubernur secara demokratis, dengan pengertian bahwa semua orang bisa jadi gubernur di Yogyakarta, bukan hanya Sultan atau Sri Paku Alam sebagai wakilnya saja. Dengan kata lain, meminta agar keistimewaan di Yogyakarta yang sudah melekat pada namanya, dihapus.
Sontak, pro-kontra bermunculan di mana-mana. Di dunia nyata ataupun di dunia maya. Sebagian setuju, sebagian tidak setuju. Kalau diminta argumen yang menguatkan kedua pandangan tersebut, amboi amboi, terlampau banyaklah argumen yang didapati. Ada yang melihat dari fakta sejarah, lalu dari fakta-fakta lain juga ada.
Dari Tuanku Sultan sendiri, Tuanku berkata bahwa ia sebenarnya sudah tidak ingin lagi mencalonkan diri sebagai gubernur DIY dan hanya ingin sampai 2x masa jabatan saja. Masa jabatan Tuanku sendiri sebagai gubernur (bukan sebagai Sultan) bermula dari tahun 1988, mendahului awal jabatannya sebagai Sultan Yogyakarta. Tuanku pula, dari berbagai sumber berita yang aku dapatkan, mempersilakan siapapun untuk menjadi gubernur DIY. Meminjam istilah dari bahasa Jawa, Tuanku Sultan sudah legowo, berbesar hati.
Masalah sebenarnya muncul daripada perkataan Presiden SBY yang berhubungan dengan RUU Keistimewaan DIY dan penetapan Tuanku Sultan sebagai gubernur. Presiden meminta agar Yogyakarta disamakan dengan wilayah lainnya, gubernur dipilih langsung sehingga demokratis. Lanjut beliau, sistem monarki yang ada di Yogyakarta berbenturan dengan demokrasi.
Terang saja ini menuai kecaman. Perkataan "monarki" itu, seakan-akan mengesankan bahwa "ada negara di dalam negara". Berarti, presiden memandang Yogyakarta sebagai "ancaman" bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia" karena statusnya sebagai daerah istimewa.
Lalu perkataan lain "bertentangan dengan demokrasi". Memangnya selama ini keberadaan DIY bertentangan dengan demokrasi??? Aku pikir tidak juga. Nah, di sinilah muncul ambigu. Demokrasi yang dipahami segelintir pihak disamakan dengan demokrasi ala Barat sana, yang mungkin saja tak sesuai dengan tata tertib yang berlaku di negara kita. Demokrasi di sini adalah demokrasi Pancasila, demokrasi terbatas dan terkoridor, bukan demokrasi yang "sedemokrasi-demokrasinya". Kalau selama ini keberadaan DIY tidak bertentangan dengan UU, ya sudah. Berarti sehaluan dengan demokrasi.
Sampai-sampai muncul tudingan bahwa Partai Demokrat, partai yang kini berkuasa, sudah haus kekuasaan sehingga ingin menguasai wilayah DIY. Memang, aku tak berani menuding seperti itu, tapi itu tudingan beberapa orang yang menulis di blog atau ikut berdiskusi denganku di berbagai forum. Tapi kalau tudingan itu ternyata benar, sungguh memalukan. Pejabat-pejabat kita makin lama makin mendewakan kekuasaan. Get lose you all...

Sikap warga Yogyakarta sendiri beragam. Ada yang setuju di Yogyakarta digelar pemilihan gubernur langsung, ada juga yang tidak. Ada yang minta Tuanku Sultan jadi gubernur sampai akhir hayat. Macam-macam.
Aku pribadi, walaupun bukan warga Yogyakarta dan tak ada kena-mengena dengan daerah itu, adalah seorang pengagum Tuanku. Banyak hal yang Tuanku lakukan selama menjadi Sultan dan menjadi Gubernur DIY. Ia adalah raja favoritku ke-dua di dunia. Nomor satu adalah Tuanku Paduka Raja Bhumibol Adulyadej dari Thailand.
Jadi, aku tak rela kalau kepemimpinan DIY pindah ke tangan lain, kecuali Tuanku Sultan mangkat. Berkaca dari hasil pemilihan langsung di berbagai daerah, tak ada hasil nyatanya. Pemilihan kepala daerah hanya jadi ajang berebut kekuasaan dan permainan uang. Masa kampanye, obral janji. Begitu terpilih, lupa janji. Hanya sedikit kepala daerah yang bekerja optimal bagi rakyatnya, sebagian besar hanya akan membuat kita geleng-geleng kepala. Imbas dari demokrasi yang salah.
Coba lihat Yogyakarta. Sebuah kota yang, wah, nilai positifnya sudah bergaung ke serata dunia. Kota yang nyaman, kota wisata, tenang, aman, tidak banyak ribut, angka korupsi rendah. Kalau gubernur berganti, aku tak yakin Yogyakarta akan tetap seperti sekarang.
Teman-temanku dari Yogyakarta pun hampir semuanya mendukung Tuanku Sultan untuk jadi gubernur seperti sekarang. Mereka juga mengatakan, orang luar Yogyakarta banyak menganggap orang Yogyakarta itu budak kampung, aneh, merepek, menyimpang, macam-macam lah. Tapi tolong orang luar Yogyakarta pahami dulu, mengapa orang tempatan tetap menyokong Tuanku Sultan, termasuk memahami juga situasi yang terjadi masa ini di Yogyakarta. Keistimewaan Yogyakarta memang begitu terasa. Aku yang bukan orang Yogyakarta pun dibuat terpana olehnya.

Ini hanya pandangan pribadiku. Aku mohon maaf kalau mungkin ini akan membuat beberapa pihak sakit hati. Silakan tulis komentar, tapi jangan debat di sini. Ada tempat lain untuk debat. Ini hanya sedikit pandangan dariku yang cukup buta akan politik dan perundang-undangan, tapi punya visi yang jauh ke depan untuk negara kita tercinta, Indonesia.

Pachelbel's Canon dan Ragam-ragamnya...

Lagu ini memang cukup populer, sampai sekarang. Padahal umurnya sudah sekitar 300 tahun. Ya, lagu "Canon" hasil komposisi Johann Pachelbel ini diciptakan kurang lebih pada akhir abad ke-17, walaupun pertama kali diterbitkan pada tahun 1919. Intinya, lagu ini sebenarnya sudah sangat berumur tetapi sangat fenomenal sampai detik ini. Lagu ini sudah dimainkan dalam berbagai variasi.

Kali ini aku akan berikan beberapa jenis variasi Pachelbel's Canon yang dimainkan dengan berbagai macam jenis musik, termasuk alat musik Sasando dari Nusa Tenggara Timur dan alat musik tradisional Minangkabau.

Versi Orkestra

Versi Rock

Duet Gitar (Depapepe)

Kayageum (Seoul Saeul Kayageum Trio)

Versi Minangkabau (Unit Kesenian Minangkabau ITB)


Sasando (Berto Pah - Indonesia Mencari Bakat)

Keterangan
1. Kayageum - Kecapi tradisional Korea (Gambar)
2. Sasando - Dawai tradisional dari Nusa Tenggara Timur (Gambar)

Anak-anak, Dari Generasi ke Generasi...

Aloha.

Aku sudah lama rindu untuk menulis lagi, sejak liburan usai. Tapi bingung nak tulis apa. Akhirnya sekarang aku menulis tentang selera hiburan anak-anak dari generasi ke generasi, yang tentunya berbeda-beda dan unik. Kita akui, zaman begitu cepat berubah, termasuk zaman yang dilalui oleh anak-anak. Unik untuk dibahas, semoga tulisan ini tidak membosankan kamu semua.

Si Unyil

Anak-anak yang lahir sekitar tahun 1980-an pasti mengenal Si Unyil. Ini adalah tayangan anak-anak paling populer pada masanya. Memang, pada tahun-tahun ini hanya ada 1 televisi di Indonesia, yaitu TVRI, sehingga hiburan pada saat itu cukup minim. Si Unyil menyegarkan kehausan akan hiburan yang bermutu untuk anak-anak.
Kata banyak orang, Si Unyil sarat dengan pesan-pesan propaganda rezim Orde Baru. Maklumlah, tayangnya pun di televisi milik pemerintah. Tapi boneka-boneka Unyil yang lucu, comel, dan pas untuk anak-anak, membuat anak-anak tidak terlalu menghiraukan pesan-pesan yang tersirat di dalamnya.
Si Unyil, beserta kawan-kawannya (Usro, Ucrit, Pak Ogah, Pak Raden, dan lain-lain yang aku tak hafal), menggambarkan keseharian anak-anak di masyarakat Indonesia yang penuh dengan kegembiraan. Sehari-hari mereka bermain dan bercanda bersama, dan kebanyakan anak-anak pun begitu, sehingga menonton Unyil seperti menonton kisah kehidupan mereka sendiri.
Penggemar Si Unyil pun masih banyak, walaupun acara ini tidak tayang lagi (sekarang hadir dalam bentuk baru yang bertajuk Laptop Si Unyil di Trans7). Beberapa hal yang tak terlupakan dari Si Unyil adalah permainan "Hompimpa Alaium Gambreng" dan juga perkataan "Cepek dulu dong..." yang dipopulerkan oleh Pak Ogah.

Doraemon

Masa-masaku adalah masa 1990-an. Pada masa ini, tontonanku adalah Doraemon, sebuah animasi dari Negeri Matahari Terbit yang sangat fenomenal. Dulu ini adalah tontonan wajib bagi aku dan kawan-kawanku yang seumur. Sampai sekarang ini adalah animasi yang paling kuingat.
Doraemon adalah sebuah robot kucing yang diutus oleh penciptanya untuk menolong kakeknya yang bernama Nobita. Nobita adalah seorang pelajar SD yang malas, tidak terlalu pandai, dan juga lembek. Berkat peralatan-peralatan ajaib Doraemon yang keluar dari kantong ajaibnya, Nobita pun bisa terbantu. Sayangnya, Nobita semakin lama semakin malas karena hanya mengandalkan alat-alat Doraemon saja. Ia punya teman perempuan cantik bernama Shizuka, dan sering bertengkar dengan Giant (si tubuh besar) dan Suneo (anak orang penting).
Tanpa disadari, kisah Doraemon juga menggambarkan kehidupan sehari-hari kita juga. Kita selalu berimajinasi "andai aku punya ini...", "andai aku punya itu...", dan itu alami. Sampai sekarang aku masih mengalaminya dan senang berandai-andai. Andai aku punya mesin waktu, aku ingin berjumpa dengan kakekku yang sudah lama wafat. Andai aku punya kotak pengandaian, aku ingin agar Malaysia, Indonesia, Singapura, Brunei, Filipina, Timor Leste, dan Pattani tidak terpecah-belah dan tergabung dalam satu negeri. Andai aku punya pintu ke mana saja, aku mau pergi ke Socotra, pulau terunik di dunia. Andai aku punya ini, andai aku punya itu, dan seterusnya.
Di luar sana kita pun tak jarang bertemu orang-orang kasar seperti Giant, atau orang-orang tukang pamer semacam Suneo. Tentu kita sebal dengan mereka, tapi kenyataannya mereka ada di sekitar kita.
Doraemon hampir sama dengan Si Unyil, ceritanya sangat keseharian. Anak yang suka membangkang orang tua, anak yang malas mengerjakan PR, itu semua nyata dan real. Sampai sekarang aku tak pernah lupa dengan Doraemon, merchandise-nya pun masih sering kubeli. Bahkan jam bertema Doraemon pun aku pakai di bagian samping blog ini (lihat di sidebar). Agaknya banyak orang yang seperti aku, terutama generasi 90-an.

Upin dan Ipin

Generasi 2000-an cukup bertuah karena mendapat akses informasi yang sangat luas, baik dari TV maupun internet. Media pun sudah semakin beragam. Anak-anak pada masa ini mendapatkan berbagai macam acara anak-anak, walaupun harus diakui televisi Indonesia sudah mulai kurang peduli untuk menayangkan acara anak-anak yang bermutu. Tapi ada satu animasi yang fenomenal pada masa ini, yaitu Upin dan Ipin, sebuah animasi buatan Malaysia. Kenapa Upin dan Ipin??? Ceritanya pun sangat keseharian, dan sesuai dengan kisah kehidupanku yang berlatar perkampungan khas Melayu.
Upin dan Ipin adalah dua anak kembar yang orang tuanya sudah meninggal dunia. Mereka berdua diasuh oleh Kak Ros dan Opah, nenek mereka. Mereka bersekolah di Tadika Mesra, dan memiliki banyak teman. Teman-teman mereka pun berbilang kaum, ada Jarjit orang India dan Mei Mei orang China. Keseharian mereka diwarnai dengan bermain dan bermain, sama seperti anak-anak pada umumnya.
Upin dan Ipin pun menggambarkan kehidupan kita sehari-hari, terutama anak-anak kampung. Rumah panggung, ayam goreng, sekolah, semuanya sangat kena. Begitu juga dengan pergaulan tanpa pandang bulu. Upin dan Ipin mengajarkan hal-hal yang sangat sesuai dengan kebudayaan Melayu (dan juga Indonesia), terutama tentang nilai-nilai Islam dan sopan santun orang kita. Sehari-hari sekali.

Karena aku adalah generasi 90-an, maka tontonan yang sampai sekarang paling aku ingat adalah Doraemon. Sampai sekarang Doraemon masih punya banyak penggemar, mulai dari anak-anak sampai orang dewasa. Tapi aku akui, ketiganya (Si Unyil, Doraemon, Upin dan Ipin) punya banyak penggemar karena ceritanya yang sungguh keseharian dan tidak kita sadari mencerminkan kisah hidup kita sendiri. Terutama Doraemon, cerita itu menggambarkan anak-anak yang senang berfantasi, berandai-andai, dan senang mencoba hal-hal baru.
Beda generasi, beda selera. Itu alami dan merupakan hukum alam. Hanya saja, aku ikut prihatin karena generasi sekarang kurang hiburan yang sesuai dengan anak-anak. Kita doakan semoga para insan media mau memperhatikan anak-anak agar mereka tetap seperti anak-anak, bukan seperti orang dewasa.

Mencoba Menulis dalam Huruf Jawi...

اين اداله توليسن ڤرتام كو دالم حروف جاوي. اكو هاڽ سقدر منچوبا، كالاو اد يڠ ساله سيلاكن دبتولكن، كرن اكو سنديري تق بڬيتو ترامڤيل دالم منوليس جاوي. توليسنكو اين برايسي تنتڠ كڬوندهنكو ترهادڤ بركورڠڽ ڤڠڬوناان حروف جاوي د خلايق راماي
سجق ڤنجاجه دري نڬارا لاين داتڠ مڠواساءي كامڤوڠ هلامن كيت، ڤرلاهن-لاهن حروف جاوي بركورڠ ڤڠڬوناانڽ دان مولاي دڬنتيكن اوليه حروف رومي اتاو حروف لاتين. ساعت اين، همڤير سموا بهاس رومڤون اوسترونيسيا دتوليس دالم حروف لاتين. ڤدحال سبلومڽ بهاس-بهاس ترسبوت سوده مميليقي حروف سنديري، ميثلڽ حروف ك ڬ ڠا دالم بهاس لمڤوڠ اتاو حروف چاراكن دالم بهاس جاوا
د إندونيسيا، ڤڠڬوناان حروف جاوي هاڽ سريڠ دتموي د ولايه-ولايه ملايو سڤرتي سومترا اوتارا دان رياو، دان منجادي ڤلاجرن مواتن لوكل، ترماسوق جوڬ د ڤاڤن-ڤاڤن ڤتونجوق ميليق ڤمرينته. د مليسيا سنديري حروف جاوي منجادي ڤلاجرن واجب ڤد تيڠكت سكوله رنده، دان جاڠن لوڤا بهوا ڤرڽاتأن كمرديكأن مليسيا دتوليس دالم حروف جاوي. د بروني، حروف جاوي دان حروف رومي منجادي حروف يڠ راسمي دڤاكاي. سلاين د بروني، حروف جاوي هاڽ دڤاكاي ڤد وقتو-وقتو ترتنتو. موڠكين سوده باڽق يڠ لوڤا دڠن حروف جاوي اين
والاوڤون برأصل دري عرب، تاڤي حروف جاوي سوده منجادي واريثن اورڠ ملايو. سهاروسڽالاه حروف اين دليستاريكن دان تتڤ دأجركن، اڬر تيدق هيلڠ دتلن زمان. كالاو تيدق سكارڠ، جاڠن سالهكن اڤابيلا انق چوچو كيت ننتي تيدق مڠنل حروف جاوي



Senjata Tradisional...

Salah satu peninggalan kebudayaan bangsa Indonesia adalah senjata tradisional. Zaman dahulu kala, bangsa kita selalu dirundung perang. Perang saudara, perang antar kampung, perang antar kerajaan, dan yang paling berkesan adalah perang melawan penjajah, bangsa lain yang bernafsu menduduki Nusantara. Setelah kemerdekaan Indonesia, sudah semakin sedikit perang yang terjadi. Apalagi salah satu misi negara kita adalah untuk mewujudkan perdamaian dunia. Lalu, mengapa senjata tradisional masih ada?
Di tengah era globalisasi, di mana manusia dituntut untuk dekat satu sama lain dan menghindari perang dan perselisihan, senjata tradisional kehilangan peran aslinya sebagai alat untuk bertempur. Bagaimanapun, kita tidak boleh lepas dari budaya peninggalan leluhur. Keris, misalnya. Sampai saat ini masih ada saja yang percaya bahwa keris itu memiliki jimat, tuah, atau bisa mendatangkan keberuntungan. Padahal di tengah masyarakat kita yang religius dan juga semakin canggih, sangat sedikit orang yang akan percaya dengan hal itu. Kita sebaiknya percaya kepada Tuhan saja.
Walaupun begitu, aku juga agak prihatin dengan makin maraknya tindak kejahatan yang terjadi selama ini. Kalau aku melihat berita-berita pembunuhan di televisi, sebagian senjata-senjata yang disita polisi adalah senjata tradisional, seperti celurit, parang, atau badik, selain senjata modern seperti pistol atau granat. Perang memang sudah tidak ada lagi, tapi kejahatan yang melibatkan perseorangan justru semakin banyak, dan senjata tradisional makin kehilangan fungsinya, dari pembela kebenaran menjadi pembela kejahatan.
Manusia harus cinta damai dan mewujudkan perdamaian. Tapi senjata tradisional harus tetap dijaga. Selain agar kebudayaan kita tidak punah, juga sebagai penghargaan terhadap leluhur kita yang sedari dulu telah mati-matian bertempur untuk menjaga kedaulatan negara kita dari tangan para penakluk. Nikmatnya sudah kita rasakan sekarang ini, kita tinggal di negara yang merdeka, walaupun masih banyak masalah...

Monarki vs Republik, Indonesia Mau Yang Mana?

Raja Bhumibol Adulyadej dari Thailand

Presiden Republik Korea, Lee Myung-Bak

Siapa yang tak mau jadi raja??? Semuanya pasti mau. Sayangnya, orang Indonesia tidak mungkin jadi raja karena Indonesia bukan negara kerajaan atau monarki. Indonesia adalah negara republik. Banyak orang berkelakar "Jadi raja itu enak, berkuasa sampai mati pun boleh. Tapi kalau presiden, paling lama 2 masa jabatan, sepuluh tahun,". Benar juga, kecuali kalau presiden gila kekuasaan, konstitusi bisa dia ubah supaya dia bisa menjabat seumur hidup. Tapi anaknya belum tentu pula jadi presiden. Sedangkan kerajaan, apabila raja mangkat tampuk kekuasaan diserahkan kepada anaknya.
Pernahkah kamu membayangkan kalau negara kita dipimpin seorang raja??? Sebagian orang pasti mengatakan "Wah, berarti aku tak boleh jadi pemimpin. Ini tak adil". Tapi mungkin sebagian orang juga akan mengatakan "Wah, berarti karena anak pemimpin itu keluarga kerajaan, mereka eksklusif, kita tak boleh berteman dengan mereka,". Jangan berprasangka negatif dulu. Jangan samakan kerajaan-kerajaan sekarang dengan kerajaan di negeri dongeng seperti Cinderella. Era globalisasi menyebabkan semua orang harus berhubungan satu sama lain, termasuk raja juga harus bersentuhan dengan rakyat.
Kerajaan-kerajaan yang ada sekarang pun tidak semuanya memiliki kekuasaan mutlak, tapi kebanyakan kerajaan sekarang adalah kerajaan konstitusional. Kekuasaannya dibatasi konstitusi, dan menganut faham Trias Politica : ada eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Pemimpin eksekutif adalah Perdana Menteri. Jadi, sampai saat ini Raja hanya sebagai simbol kedaulatan negara, tetapi apabila negara dalam kemelut maka rakyat mengharapkan petuah dan rancangan Raja. Bagaimanapun juga, Raja adalah pemimpin rakyat secara tradisional.
Lain halnya dengan Republik. Presiden dipilih oleh rakyat, bisa secara langsung atau tidak langsung. Di beberapa negara, presiden juga hanya sebagai simbol, sedangkan pemerintahan dijalankan oleh Perdana Menteri. Di negara lainnya, termasuk Indonesia, presiden menjalankan pemerintahan eksekutif. Salah satu hak istimewa adalah bahwa setiap orang boleh menjadi presiden. Sayangnya, manusia yang semakin dibutakan oleh 3Ta (Harta, Takhta, Wanita) membuat semua orang mencari jalan untuk menjadi presiden, termasuk jalan yang salah.
Indonesia berada dalam kemelut. Marilah kita bersama merenungkan dalam hati, sebenarnya apa tujuan bangsa ini. Dan yang terpenting, apakah sistem pemerintahan yang sekarang ini masih relevan dalam kehidupan kita, renungkanlah.

Lapenge Terebe Kelate...

Aku yakin gambar di atas adalah palsu, tapi lucu juga untuk dilihat. Gambar di atas adalah petunjuk arah di lapangan terbang yang telah diubah ke dalam loghat Kelantan atau kecek Kelate, walaupun kalau kulihat sepertinya petunjuk di atas terdapat di Lapangan Terbang Antarabangsa Kuala Lumpur atau KLIA.
Prekso dale berarti "periksa dalam". Ini adalah terjemahan kacau dari kata bahasa Inggris "check in" (check=periksa, in=dalam). Setahuku bahasa Indonesia atau Melayu yang benar adalah "pendaftaran ulang". Kapa trebe belepah maksudnya "kapal terbang berlepas". Mestinya singkat saja "belepah" atau "pelepahe" (perlepasan). Di Indonesia "keberangkatan".
Nok tanyo gapo? artinya "Nak tanya apa?". Bahasa Melayu yang benar adalah "maklumat" atau "informasi". Sedangkan Slamak Jale maksudnya "selamat jalan". Maksudnya di viewing gallery itu orang-orang boleh mengucapkan selamat jalan kepada orang terkasih yang ada di dalam pesawat. Lapa peruk atau "lapar perut", maksudnya menyuruh orang pergi ke restoran kalau perut lapar.
Unik juga ya. Untung belum ada yang ubah gambar ini ke bahasa Betawi atau bahasa Melayu Palembang, pasti lucu juga. Silakan komentar.

Filipina, Tak Jauh Beda dengan Kita...

Tak etis rasanya apabila kita membandingkan negara kita dengan Malaysia. Malaysia sudah melesat jauh dan menjadi negeri yang lebih maju dari kita (padahal kita yang membesarkan mereka), walaupun Malaysia beradat resam Melayu dan mayoritasnya adalah pemeluk Islam. Lebih baik membandingkan negara kita dengan negara yang satu ini: Republika ng Pilipinas, Republik Filipina.
Pernah aku melihat sebuah tayangan di Channel News Asia yang membahas tentang nasi, dan tayangan itu pun membahas peranan nasi di Filipina. Ternyata ada makanan-makanan mereka yang sama dengan makanan khas kita. Mereka punya puto bombong, yaitu sejenis kue putu tapi berwarna ungu karena dicampur talas, dan dioles mentega di atasnya (di Indonesia kue putu ditaburi kelapa). Ada juga yuklut, yang ternyata mirip dengan lemang, makanan khas Melayu yang biasa dimasak pada waktu Hari Raya. Dan Filipina pun punya nasi kuning, dengan nama yang berbeda, tapi aku lupa namanya. Sebelumnya aku berfikir nasi kuning hanya ada di Jawa Barat, tanah Sunda, tapi ternyata di Filipina pun ada.
Boleh dikatakan, Filipina mirip dengan Indonesia. Bahasa nasional mereka, Tagalog, adalah rumpun bahasa Austronesia (serumpun dengan bahasa Melayu). Filipina pun punya bahasa-bahasa daerah lain yang juga termasuk rumpun Austronesia. Filipina juga merupakan sebuah negara kepulauan, sama dengan Indonesia. Di sebuah serial Filipina yang ditayangkan di TV7 (sebelum namanya berubah menjadi Trans 7), aku lihat perkampungan nelayan di sana hampir sama dengan di sini. Rumahnya berbentuk rumah panggung, berdinding rotan, dan berpagar bambu. Kulit mereka pun sama, sawo matang, dan dengan jujur mereka mengaku kalau mereka juga bagian dari rumpun bangsa Melayu.
Ibukota Filipina, Manila, yang terdiri dari dari 17 kotamadya (seperti Jakarta yang terdiri dari 5 kotamadya), keadannya tak jauh beda. Walaupun Manila sudah punya MRT dan LRT (Jakarta belum punya), jalanan tetap padat dan sesak. Polusi udara terasa, dan sampah pun bertebaran di mana-mana. Mereka juga punya sebuah angkutan umum yang khas bernama Jeepney. Jeepney ini boleh ditumpangi oleh 7-8 orang, dan jika ingin turun harus mengetuk atapnya sehingga supir akan berhenti. Sama seperti mikrolet di Jakarta.
Keadaan geografis Filipina tak jauh beda dengan Indonesia. Filipina memiliki banyak sawah dan ladang, sehingga tanahnya subur. Garis pantainya panjang, hasil ikannya melimpah. Pantai-pantainya pun tak kalah indahnya dengan pantai di Indonesia. Filipina juga sama seperti Indonesia, rawan bencana alam seperti gempa, letusan gunung, dan badai El Nino. Rakyat Filipina pun masih banyak yang hidup di bawah garis kemiskinan. Angka pengangguran di sana cukup tinggi. Perkampungan kumuh pun terdapat di mana-mana.
Filipina juga memiliki sejarah yang hampir sama dengan kita, yaitu pernah dipimpin oleh presiden yang otoriter. Dia adalah Ferdinand Marcos. Kebijakannya suka-suka sendiri dan tidak ada yang bisa melawannya. Memamg pertumbuhan ekonomi Filipina membaik tetapi rakyat merasa tersiksa. Akhirnya rakyat meluncurkan gerakan People Power (bahasa Tagalog: Lakas ng Bayan untuk menumbangkan sang presiden. Marcos pun lari ke Hawaii dan tinggal di sana sampai akhir hayat. Situasi yang sama berlaku ketika kita dipimpin oleh Soeharto. Bedanya, keluarga Marcos dikucilkan sampai saat ini, tapi keluarga Soeharto berhasil menjalankan bisnisnya, walaupun keluarganya runtuh karena hampir semua putera-puterinya bercerai dengan suami atau isterinya.
Yang membedakan kita dan mereka adalah agama. Mayoritas warga Filipina beragama Kristen Katolik, walaupun sebagian kecil di Pulau Mindanao beragama Islam, sedangkan mayoritas warga Indonesia adalah Muslim. Filipina juga berbeda nasib. Mereka ditaklukkan Spanyol dan dijajah selama tiga ratusan tahun, kemudian diduduki lagi oleh Amerika Serikat. Indonesia dijajah Belanda, lalu dijajah lagi oleh Jepang. Adapun dulunya di Filipina telah berdiri kesultanan-kesultanan Islam dan mayoritas warganya memeluk Islam, tetapi kemudian ditaklukkan Spanyol dan Spanyol berhasil menyebarkan ajaran Kristen kepada warga, sedangkan di Indonesia usaha Belanda untuk mengajak warga Indonesia untuk memeluk Kristen gagal.
Suatu saat nanti, aku ingin ke Filipina, sebuah negara yang eksotis dan memiliki daya tarik tinggi. Sayang impianku belum bisa terwujud, tapi akan tiba masanya. Walau bagaimanapun, aku tetap bangga dengan negaraku, Indonesia...

Uang Koin yang Multiguna...

Sejarah menyatakan bahwa satuan uang yang pertama kali dibuat berupa koin, bukan berupa kertas yang umum digunakan pada saat ini. Di Indonesia sendiri, uang koin bernilai Rp100, Rp200, Rp500, dan Rp1000 (dulu ada Rp25 dan Rp50 tapi sekarang sudah tidak berlaku lagi).
Pada masa kini, uang koin mungkin sudah mulai dikurangi penggunaannya, karena semakin berkembangnya pembayaran dengan kartu kredit dan cek, bukan dengan uang berwujud nyata. Akhirnya uang koin mulai kurang diminati karena beberapa sebab. Selain karena bentuknya berat, uang koin juga tidak enak untuk dibawa dalam jumlah besar. Pada kenyatannya, uang koin juga dibutuhkan untuk membayar sesuatu dalam uang pas agar efisien, seperti membayar tarif tol, membayar belanja di pasar swalayan, atau membayar karcis angkutan umum, agar tidak terjadi antrian panjang.
Uang koin pun saat ini memiliki fungsi tidak hanya sekadar alat pembayaran. Contoh yang paling sering ditemukan adalah penggunaan uang koin untuk mengerok punggung orang yang masuk angin. Setelah dikerok, kalau punggung terlihat merah, berarti orang itu masuk angin, dan setelah dikerok semua angin bisa keluar. Aku pun tak tahu siapa perintisnya.
Uang koin juga berguna untuk membuka kode yang tertera dalam pengisian pulsa handphone dalam bentuk fisik. Kode yang biasanya bertuliskan 14 digit nomor itu memang tersembunyi dibalik guratan-guratan yang harus dikorek. Walaupun demikian, akhir-akhir ini masyarakat lebih banyak menggunakan pulsa elektrik. Selain harganya lebih murah, pulsa elektrik mengurangi sampah kertas yang bisa menyebabkan pemanasan global.
Uang koin juga penting dalam olahraga, biasanya olahraga tim. Wakil dari masing-masing tim disuruh menebak sisi koin mana yang akan ada di atas setelah wasit melempar koin tersebut. Yang menebak dengan benar mendapat giliran untuk mengawali pertandingan. Pada sepakbola, tebak koin adalah pilihan terakhir apabila sampai tendangan penalti terakhir kedua tim masih mendapatkan skor imbang. Memang sungguh tak adil, perjuangan selama lebih dari 90 menit diakhiri dengan tebak-tebakan koin. Tebak-tebakan koin ini juga bisa dijadikan alat judi atau taruhan.
Akhir-akhir ini, koin juga digunakan untuk menggalang solidaritas, iaitu pada kasus Prita Mulyasari, terdakwa kasus pencemaran nama baik terhadap RS OMNI. Masyarakat dengan rela hati menyumbangkan koin dalam jumlah yang beragam sebagai bentuk pembelaan kepada Prita, yang mungkin saja dia difitnah atau dizalimi. Apalagi koin-koin itu juga bentuk perlawanan masyarakat kecil terhadap masyarakat kelas atas. Bahkan, bisa saja jumlah nilai koin itu lebih besar daripada denda yang harus dibayar Prita.
Itulah uang koin yang multiguna. Mulai dari hal sepele sampai pertaruhan antara hidup dan mati. Bukan lagi sekadar alat pembayaran...

Kecek Kelate...

Salah satu loghat Melayu yang buatku cukup unik adalah loghat Kelantan. Orang tempatan biasa menyebutnya Kecek Kelate. Loghat ini mungkin cukup asing di Indonesia, mungkin karena letaknya yang jauh di Pantai Timur Tanah Semenanjung. Tapi di Malaysia, loghat ini cukup populer dan terkadang jadi bahan olok-olokan, walaupun sukar untuk dimengerti.
Beberapa perubahan kata-kata bahasa Melayu standar ke dalam loghat Kelantan :

  • Kata berakhiran -a berubah menjadi -o (sama dengan loghat Palembang atau Jambi)
    Contoh : kata=kato, saya=sayo
  • Akhiran -an, -ang, -am berubah menjadi -e
    Contoh : jangan=jange, orang=ore, selam=sele
  • Akhiran -ai, -au berubah menjadi -a
    Contoh : limau=lima, belai=bela
  • Akhiran -l, -r hilang
    Contoh : betul=betu, besar=besa, benar=bena
  • Akhiran -ah berubah menjadi -oh
    Contoh : tanah=tanoh, salah=saloh
  • Akhiran -ak berubah menjadi -ok
    Contoh : banyak=banyok, pijak=pijok
  • Akhiran -p dan -t berubah menjadi bunyi hamzah
    Contoh : silap=sila', ikut=iku'
  • Akhiran -s berubah menjadi -h
    Contoh : lepas=lepah, putus=putuh
  • Diftong "ia" berubah menjadi vokal "e"
    Contoh : biasa=beso
  • Konsonan "mp" berubah menjadi "p" dan "nt" berubah menjadi "t"
    Contoh : pantai=pata, sampai=sapa, Kelantan=Kelate
Selain itu ada kata-kata khas yang berbeda makna dalam bahasa Melayu standar seperti :
  • Kawe. Ini artinya "saya", walaupun kalau diterjemahkan ke bahasa Melayu standar menjadi "kawan".
  • Saing. Artinya "kawan". Kalau di bahasa Melayu standar maknanya lain.
  • Pitih. Artinya "uang". Dalam bahasa Melayu standar menjadi "pitis", yaitu satuan uang. (Pitih juga ditemukan dalam bahasa Minangkabau, artinya sama)
  • Lagu. Arinya "macam". Dalam bahasa Melayu standar artinya lain. (Lagu juga ditemukan dalam loghat Kedah dan Terengganu)
Ada juga kata-kata yang tidak ditemukan dalam bahasa Melayu standar, seperti :
  • Hok (yang), kemungkinan dari bahasa Thai
  • Demo (kamu, kalian)
  • Ghoya' (cakap, bilang)
  • Gedio (apa)
Dari contoh-contoh di atas, patutlah kiranya loghat ini sulit dimengerti. Tapi di filem-filem Malaysia loghat ini sudah sering dituturkan, terutama pada filem Budak Kelantan yang baru saja tayang. Setidaknya aku sudah memperkenalkan sebuah loghat Melayu di Malaysia yang belum banyak diketahui orang Indonesia. Sekie sajo dulu tulise sayo, mogo sayo buleh lanjutke lagi. Kalu ado tesila' kato, sayo mohon maaf. Saing ore Kelate jugo buleh bantu sayo. Terimo kasih.

Kenapa Aku Keberatan Dipanggil "Kakak"?

Ada perasaan tak enak dalam hatiku kalau orang-orang yang lebih muda dariku memanggilku "kakak". Aku lebih senang dipanggil "abang". Lebih senang lagi kalau dipanggil "mas" atau "kangmas", karena sesuai tradisi Jawa (walau aku bukan Jawa), apabila orang yang lebih tua memanggil kita dengan sebutan "kangmas", artinya orang tersebut respect terhadap kita. Tapi aku tetap keberatan kalau dipanggil "kakak". Ada dua alasan :


  1. Dalam perbendaharaan kata bahasa Melayu asli, kata "kakak" hanya digunakan untuk memanggil perempuan yang lebih tua dari kita, tetapi masih sepantaran. Tentu saja karena aku lelaki, aku keberatan dipanggil "kakak". Kata bahasa Melayu yang benar untuk memanggilku adalah "abang". Entah mengapa dalam bahasa Indonesia, entah laki-laki entah perempuan dua-duanya disebut "kakak", dengan membedakan antara "kakak laki-laki" dan "kakak perempuan". Padahal jelas salah. Aku sedang mencari penjelasannya lebih lanjut. Sedangkan di Malaysia, kata "abang" dibakukan.

  2. Sebagai orang yang terlahir dari keluarga Batak Toba, sudah tradisi adik-adikku memanggilku "abang". Kata "abang" dan "kakak" memang semakin sering dipakai di dalam masyarakat Batak, walaupun bahasa Batak juga memiliki kata yang tepat, yaitu "angkang" (baca : akkang) untuk abang/kakak sejenis kelamin, dan "iboto" untuk abang/kakak ataupun adik yang berbeda jenis kelamin. Untuk adik sejenis kelamin, pakailah kata "anggi".


Demikianlah kenapa aku keberatan dipanggil "kakak". Waktu aku SMA, kalau adik kelas memanggilku "kakak", aku langsung bilang "Tolong ya, jangan panggil aku 'kakak', aku kurang enak hati,". Tapi kalau dipanggil "abang", "aa" (di Jawa Barat), "kangmas", atau "koko" (di kalangan orang Tionghoa), aku tak keberatan, karena padanannya pas. Begitu juga untuk siapapun yang menyapaku, mohon dengan sangat, jangan panggil aku "kakak".

Posting Pertama...

Assalamualaikum... Shalom Kaverim... Om Swastiastu... Namo Buddhaya...
Horas... Mejuah-juah... Ya'ahowu... Sampurasun... Ni Hao... Vanakkam... Namaste...
Ini adalah postingan pertamaku yang pertama. Sebenarnya bukan yang pertama, karena di blog lain aku telah banyak membuat postingan yang bagi orang lain sungguh menakjubkan.
Sebelumnya aku pernah membuat blog di blogspot, tapi karena kesibukan yang tidak bisa dilawan maka aku pun memutuskan untuk menutupnya, dan kali ini aku membuat blog baru. Tapi aku sudah punya blog di Friendster dan di Blogdetik. Sebagian dari tulisanku di sini akan kuambil dari kedua blog tadi.
Siapakah aku? Aku adalah manusia. Tapi, aku masih harus merahasiakan identitasku yang lengkap. Namaku Feraldo PMS. Selengkapnya bisa dilihat di Facebook atau Friendster. Mau add aku jadi kawan pun boleh.
Bacalah, resapilah, dan nikmatilah...