HUBAYA-HUBAYA!!! MOHON MAAF... UNTUK KALI INI, PERMINTAAN CD DAN DVD ISO LINUX TIDAK BISA DIPENUHI UNTUK SEMENTARA WAKTU... SEKIRANYA ADA KEMUNGKINAN UNTUK MEMENUHI PERMINTAAN, AKAN DIUMUMKAN LEBIH LANJUT... TERIMA KASIH DAN MOHON MAAF UNTUK YANG TELAH MEMESAN ISO LINUX... HARAP MAKLUM... TABIK...
Tampilkan postingan dengan label perjalanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label perjalanan. Tampilkan semua postingan

Dari dan ke Indonesia Tanpa Pesawat Terbang??? (Part 2)

Sebelumnya di sini aku sudah cerita tentang bagaimana kita bisa menuju ke negara-negara lain di Asia, Eropa, dan Afrika, tanpa menggunakan pesawat terbang, jadi cukup menggunakan jalan darat. Kali ini aku akan menambahkan beberapa data yang bisa menjadi panduan kamu semua untuk menuju Malaysia dan Singapura, atau sebaliknya dari sana menuju ke sini, tanpa menggunakan pesawat terbang. Dari Malaysia atau Singapura, kamu bisa menuju ke negara-negara lainnya dengan mudah, begitu juga sebaliknya.

Ternyata menurut kabar terkini, jalur ferry antara Medan dan Pulau Pinang sudah ditutup. Ini mungkin saja imbas daripada penerbangan murah antara kedua kota itu. Jadi, jalur yang sangat mungkin antara Indonesia dan Malaysia ialah :

  1. Tanjung Balai (Sumatera Utara) - Port Klang / Pelabuhan Klang (Selangor)
  2. Dumai (Riau) - Port Klang
  3. Dumai - Melaka
  4. Batam - Singapura, dan juga ke kota-kota lain seperti Johor Bahru dan Tanjung Belungkor (Johor)
  5. Tanjung Balai Karimun - Singapura, dan juga ke kota-kota lain seperti Kukup dan Batu Pahat (Johor)
  6. Tanjung Pinang - Singapura, dan juga Johor Bahru

Kapal ferry Indomal Express rute Dumai - Malaka

PO Handoyo rute Dumai - Pulau Jawa

Kapal ferry Indomal Express melayani rute Malaka - Dumai dan Port Klang - Dumai, dan memakan waktu sekitar 1 jam 45 menit. Klik di sini untuk menuju laman resminya. Di situ bisa dilihat jadual dan harganya. Sebenarnya ada juga kapal ferry langsung ke Pekanbaru, tapi berdasarkan kabar burung yang aku dengar, jalur ini sudah ditutup.
Bagaimana dari Dumai menuju kota-kota lain di Indonesia???
Bisa dengan menumpang bis atau travel. Bis atau travel ke Pekanbaru, ibukota Provinsi Riau, cukup sering. Yang paling terkenal adalah Sinar Riau tapi banyak juga yang lain. Sinar Riau dan angkutan lain juga ada yang menuju Bukittinggi, Sumatera Barat, sedangkan bis ANS melayani rute Dumai - Padang dan Makmur melayani rute Dumai-Medan.
Bis yang langsung ke Jakarta atau Pulau Jawa hanya ada Handoyo dan Kurnia, sedangkan Pacitan Jaya Putra hanya sampai Pelabuhan Merak. Selain itu tidak ada, harus ke Pekanbaru dahulu. Dari Pekanbaru ke Jakarta ada beragam bis seperti Siliwangi Antar Nusa (SAN), Pahala Kencana, Sari Harum, dan Lorena. Waktu tempuh Dumai - Pekanbaru sekitar 4-5 jam, sedangkan dari Pekanbaru ke Jakarta diperkirakan sekitar 35 - 40 jam.
Alternatif lain adalah dari Dumai menuju Palembang atau Bandar Lampung dengan bis Indonesia Mulia Indah (IMI), dan dari Palembang atau Bandar Lampung bisa menumpang bis Pahala Kencana, Kramat Djati, Sari Harum, atau Laju Prima. Untuk jarak tempuhnya, aku tak tahu pasti. Aku belum survey.
Masih ada alternatif lain. Dari Dumai menumpang angkutan ke Simpang Bangko, dan dari sana bisa naik bis yang dari Medan seperti Antar Lintas Sumatera (ALS), Medan Jaya, Pelangi, PMTOH dan lainnya. Tapi harganya memang jadi lebih mahal.

Kapal ferry Batam Fast rute Singapura - Batam

KM Kelud rute Belawan (Medan) - Tanjung Balai Karimun - Sekupang (Batam) - Tanjung Priok (Jakarta)

Alternatif lain adalah dari Singapura. Dari Singapura menuju Batam atau sebaliknya, ada berbagai macam kapal ferry seperti Penguin, Batam Fast, Indo Falcon, dan lain-lainnya. Berangkat dari Singapura bisa dari Harbour Front ataupun Pelabuhan Tanah Merah, seperti yang pernah aku ceritakan. Sedangkan di Batam bersandar di Batam Center, Harbour Bay, Sekupang, atau Nongsa.
Ada juga kapal ferry dari Singapura menuju Tanjung Balai Karimun seperti Batam Fast.
Dari Batam ataupun Tanjung Balai Karimun menuju Jakarta bisa menumpang kapal KM Kelud dengan rute Belawan (Medan) - Tanjung Balai Karimun - Sekupang (Batam) - Tanjung Priok (Jakarta). Dari Batam menuju Jakarta memakan waktu sekitar 1 hari (24 jam).
Atau dari Batam menuju Dumai dengan MV Dumai Express, lalu dari Dumai bisa diteruskan naik bis. Dari Batam juga bisa menumpang kapal ferry ke Pekanbaru, Kuala Tungkal (Jambi), dan Palembang, tapi infonya belum pasti.

Alternatif lain, dari Singapura menuju Tanjung Pinang. Dari Tanjung Pinang, lebih tepatnya Pelabuhan Kijang, menuju Jakarta bisa menumpang KM Umsini (rute Kijang - Tanjung Priok), KM Sirimau (Kijang - Belinyu (Bangka) - Tanjung Priok), atau KM Bukit Raya (Kijang - Belinyu - Tanjung Priok). Memakan waktu sekitar satu hari lebih 5 jam.
Kalau ingin menghindari Singapura, kamu juga bisa dari kota-kota di Malaysia seperti Johor Bahru atau Tanjung Belungkor menuju Batam, Karimun, atau Tanjung Pinang.

Tulisan ini sekadar referensi bagi kamu yang ingin mencoba sensasi baru melancong ke negara lain, menghindari pesawat terbang. Aku sudah memaparkan alasan mengurangi pemakaian jasa pesawat terbang di postingan sebelumnya. Kalau kamu mau mencoba, silakan.
Kalau bukan karena terpaksa atau kejar waktu, sebaiknya hindari penggunaan pesawat terbang. Cobalah moda transportasi lain seperti kapal laut, bis, atau kereta api. Dan pastinya, jadinya Jembatan Selat Sunda dan Jembatan Selat Malaka di masa depan nanti (entah kapan) bisa memudahkan kita melakukan perjalanan lintas negara tanpa pesawat terbang, untuk bumi yang lebih hijau, segar, dan asri.

Postingan ini akan selalu diupdate sesuai info yang aku dapatkan. Kalau ada yang dapat info lebih lanjut, atau mungkin ada yang kurang jelas, silakan tinggalkan komentar. Terima kasih.

Mencari Tuan Rumah dan Menjadi Tuan Rumah

Aku baru saja selesai membaca buku "Keliling Eropa 6 Bulan Hanya 1.000 Dolar" yang ditulis oleh Marina Silvia K. Memang terlambat, karena buku ini sudah terbit sekitar 3 tahun yang lalu, tapi baru kali ini aku berkesempatan membaca buku ini karena minatku terhadap dunia perjalanan atau travelling baru tumbuh akhir-akhir ini.
Hal yang menarik yang diungkapkan dalam buku ini adalah bagaimana kita mengurus akomodasi di negeri orang. Ternyata ada metode yang tengah populer, yaitu menginap di rumah orang. Ini menjadi metode yang bagi beberapa orang amat menyenangkan dibandingkan tidur di hotel, hostel, motel, atau sejenisnya.
Apa sajakah kelebihannya???

  • Tanpa biaya. Kita tak akan menanggung biaya akomodasi.
  • Kita bisa mengenal secara langsung bagaimana keseharian masyarakat di negara yang kita tempati.
  • Banyak kawan baru yang kita dapat. Terutama kalau kita berjalan-jalan sendiri dan tidur di penginapan, kita akan merasa suntuk bersendirian. Tapi kalau menginap di rumah orang, kita dapat kawan baru yang mau mendampingi kita selama perjalanan dan menjadi kawan untuk meluahkan rasa hati.
Karena menurutku, ada dua harta berharga yang kita dapatkan ketika berjalan-jalan, yaitu persahabatan dan pengetahuan. Dua harta ini tidak akan tergantikan oleh uang sebesar apapun, dan dua itulah yang ingin aku cari. Belanja dan oleh-oleh itu urusan belakang. Pepatah Melayu pun ada berkata, "Jauh perjalanan luas pemandangan, luas pemandangan banyak pergaulan", tentu saja pemandangan (pengetahuan) dan pergaulan itu yang ingin dicari. Karena itulah metode homestay menjadi cara ampuh untuk mendapatkan kedua harta berharga itu.
Dan dari cara itu pula, Marina Silvia mendapatkan banyak pengalaman baru yang mampu ia rangkai semuanya itu menjadi sebuah buku bertajuk "Keliling Eropa 6 Bulan Hanya 1.000 Dolar". Tapi bagiku, bukan 1.000 Dolar itu yang ingin ditekankan, karena bagiku berapapun biayanya itu sudah menjadi resiko bagi seorang pelancong. Apalagi kedua harta itu, persahabatan dan pengetahuan, tak akan tergantikan oleh triliunan dolar sekalipun.

Tapi bagaimana caranya??? Bagaimana kita mencari orang yang mau menjadi "tuan rumah" di kota yang ingin kita tempati??? Ada beberapa laman internet yang bisa membantu.

HospitalityClub dan CouchSurfing cukup diutamakan. Kamu diminta untuk mendaftar (sign up) di situ dan nantinya akan dikonfirmasi oleh pemilik laman. Ketika diminta untuk mengisi profil, usahakan mengisi profil sedetil mungkin, karena apa??? Pada nantinya kita akan bertemu di dunia nyata, dan nantinya profil kita akan menjadi pertimbangan bagi orang-orang yang ingin menjadi tuan rumah kita, maukah mereka menerima kita.
Oh iya, lagi satu. Melalui couching website seperti ini, kita bukan hanya mencari tuan rumah, tapi kita pun boleh menjadi tuan rumah bagi pelancong yang akan melancong ke tempat kita. Bak kata pepatah Melayu, "orang berbudi kita berbahasa, orang memberi kita merasa". Orang sudah menjadi tuan rumah, sekarang giliran kita menjadi tuan rumah bagi mereka. Atau justru sebaliknya, dengan pertama-tama kita menjadi tuan rumah bagi mereka, dengan mudahnya mereka pun menjadi tuan rumah bagi kita manakala kita melancong ke kota mereka.
Dengan cara seperti ini, kita dapat mengenal lebih banyak kawan dari negara lain. Apabila kamu merasa belum mampu melancong ke negeri yang jauh, cukuplah kamu menjadi tuan rumah dan mendampingi mereka untuk berwisata di kota kamu. Banyak harta yang bisa didapat dari jalur pertemanan seperti ini.
Sebelum terlupa, profil pada laman itu harus kamu isi selengkap mungkin. Pada saat kita mencari tuan rumah, orang yang ingin menjadi tuan rumah bisa mempertimbangkan ingin menerima kita atau tidak dengan melihat profil kita. Sebaliknya, pada saat mereka mencari tuan rumah, mereka juga bisa memilih apakah mereka mau tinggal di rumah kita atau tidak.

Bisakah dari dan ke Indonesia Tanpa Pesawat Terbang???

Jalur kereta api Asia Tenggara dan China. Bisakah dari sini menuju Indonesia???

Postingan ini masih ada kena mengena dengan postingan ini. Jadi aku sudah cerita, di blog kawan kita yang bernama Helmut Uttenthaler itu, aku meninggalkan komentar singkat yang isinya mengajak dia untuk datang ke Indonesia dengan naik kereta api dari negaranya, Austria, ke negara ini. Karena dia penyenang kereta api, maka aku mengajaknya naik kereta api, bukan pesawat terbang.

Pertanyaannya, bisa kah???

Ternyata jawabannya BISA. Tapi tak mudah, agak susah sedikit.
Begini rute perjalanannya :

  1. Dari kota manapun di Eropa ke Moskow. Ini macam-macam rutenya.
  2. Dari Moscow lalu naik kereta api lewat jalur Trans-Siberian Railway menuju Beijing. Perjalanan ini sekitar satu minggu.
  3. Dari Beijing lalu menuju Hanoi dengan kereta api langsung. Perjalanan ini sekitar 3 hari 2 malam.
  4. Dari Hanoi, bisa naik bis ke Vientiane (satu hari), atau lanjut naik kereta api ke Ho Chi Minh dan dari Ho Chi Minh naik bis ke Phnom Penh lalu ke Bangkok. Memang sangat disayangkan tidak ada jalur kereta api di Kamboja dan Laos, sehingga terpaksa untuk melewati kedua negara itu menuju Thailand harus naik bis.
  5. Dari Vientiane naik kereta api langsung menuju Bangkok.
  6. Dari Bangkok bisa langsung naik kereta api menuju Singapura, lalu dari Singapura menuju Batam dengan kapal ferry. Tapi sayangnya, dari Batam ke kota lain sepertinya harus dengan kapal terbang, kecuali memang ada kapal laut langsung. Sepertinya ada kapal Pelni yang ke sana.
  7. Alternatif lain, dari Bangkok ke Kuala Lumpur, lalu dari Kuala Lumpur naik kereta api ke Tampin, Melaka. Dari Tampin menuju Bandar Melaka harus naik bis atau taksi, lalu dari Melaka bisa menyeberang dengan kapal ferry menuju Dumai, Riau. Dari Dumai ke mana-mana tempat bisa naik bis.
  8. Alternatif lain lagi, lewat Pulau Pinang. Jadi dari Bangkok turun di Butterworth, lalu naik bis ke Georgetown (Pulau Pinang) dan dari sana naik kapal ferry menuju Medan, Sumatera Utara.
Ada satu laman yang bisa membantu, seat61.com. Laman ini menjelaskan berbagai informasi untuk melancong ke berbagai tempat di belahan dunia tanpa naik pesawat terbang. Jadi bisa naik bis, kapal ferry, atau kereta api. Tapi tidak semua negara, dalam artian ya memang ada beberapa negara yang untuk menuju ke sana terpaksa harus naik kapal terbang.
Di situ juga dijelaskan alasan-alasan untuk tidak memakai pesawat terbang dan memilih menggunakan moda transportasi lain. Penjelasannya bisa dibaca di sini. Ternyata perbandingan emisi CO2 yang dihasilkan antara kapal terbang dengan moda transportasi lain memang cukup jauh.
Di luar itu, banyak yang bisa kita nikmati dengan perjalanan tanpa pesawat terbang ini. Terutama pemandangannya, masyarakatnya, dan nyamannya tidur nyenyak di dalam kereta api. Di dalam pesawat terbang, sudah hanya bisa tidur di tempat duduk (kecuali 1st class), cuma bisa melihat-lihat awan, banyak pula batasannya. Memang kelebihan kapal terbang adalah waktu tempuhnya yang cepat, tapi kalau sedang tidak terburu-buru, sebaiknya gunakanlah moda transportasi lain seperti kapal laut atau kereta api misalnya.

Adanya Jembatan Selat Malaka mampu mempermudah akses tanpa kapal terbang menuju Indonesia

Perjalanan tanpa kapal terbang ini nantinya bisa semakin dimudahkan apabila Jembatan Selat Malaka sudah selesai dibangun. Nantinya akan membuka akses darat langsung dari Pulau Sumatera menuju Tanah Semenanjung. Tapi mungkin baru beberapa tahun lagi mulai dibangun, karena pembangunan ini memakan biaya tidak sedikit. Ditambah lagi pemerintah kita akan lebih fokus untuk pembangunan Jembatan Selat Sunda daripada jembatan ini.
Nah, masalahnya selain biaya, tentunya kesiapan infrastruktur di Indonesia juga harus jadi bahan pertimbangan. Kita berharap, sebelum JSM jadi, jalan di daerah Sumatera sudah harus mulus. Tapi selain itu, sebaiknya pemerintah kita juga membangun jalur kereta api menuju Pulau Sumatera sehingga bisa langsung naik kereta api dari sini ke negara lain.
Kereta api itulah yang penting, karena bisa menjadi alternatif rute ekspor impor negara kita. Selain itu juga kan kendaraan pribadi atau kendaraan jalan raya juga merupakan sesuatu hal yang harus dihindari untuk menjaga kebersihan lingkungan kita. Naik mobil sendiri pun selain menghasilkan polusi, juga bukan hal yang menyenangkan untuk berjalan-jalan karena harus menyetir sendiri, kecuali kamu memang menyukainya.
Tapi tanpa jembatan itu pun, pada intinya sudah bisa ke negara kita atau dari negara kita ke negara lain, termasuk ke Eropa, tanpa naik kapal terbang. Silakan nikmati kalau kamu memang ingin menikmatinya. Suatu hari nanti aku mau mencoba.

Perjalanan Seorang Sahabat Menuju Korea Utara

Kawan-kawan silakan berkunjung ke blog ini : http://vienna-pyongyang.blogspot.com. Aku beberapa hari yang lalu membaca blog tersebut dan aku mendapatkan cerita yang cukup menarik, yaitu bagaimana dua orang sahabat kita dari Austria yang bernama Helmut dan seorang lagi dari Swiss yang bernama Oliver melakukan perjalanan menuju Korea Utara, sebuah negara paling misterius di dunia dan sebuah destinasi yang "tidak biasa", dan rupanya mereka pun masuk ke negara itu melalui jalur yang "tidak biasa".
Mereka melakukan perjalanan dengan kereta api. Ya, kereta api. Memang sahabat kita Helmut ini adalah seorang pekerja di syarikat kereta api Austria sana, dan memang dia tertarik dengan dunia perkeretaapian. Tapi melakukan perjalanan lintas benua menggunakan kereta api memang cukup unik. Helmut dan Oliver, sahabat yang juga pekerja syarikat kereta api di Swiss, menghabiskan 22 hari perjalanan Austria-Slovakia-Ukraina-Rusia-Korea Utara-China-Austria. Dan ternyata mereka pulang dari Beijing dengan pesawat terbang, bukan kereta api. Bayangkan kalau naik kereta api, bisa lebih lama lagi.
Tidak hanya itu, mereka pun menghabiskan uang sekitar 3.100 Euro (sekitar 33 juta Rupiah). Astaga.

Bukan di situ saja keunikannya. Mereka masuk melalui pintu masuk Korea Utara yang menurut kabar hanya boleh dilintasi oleh warga Korea Utara dan warga Rusia. Warga negara lain, apabila masuk ke Korea Utara dengan kereta api, biasanya masuk melalui Dandong, China. Jadi hanya ada dua pintu masuk ke Korea Utara : Dandong-Sinuiju dan Lapangan Terbang Internasional Sunan, Pyongyang.
Tapi sahabat kita ini masuk melalui Khasan, Rusia, dan Tumangang, Korea Utara. Jalur ini tertutup untuk warga negara selain Korea Utara dan Rusia. Kenyataannya mereka bisa lolos masuk tanpa kekurangan suatu apapun, walaupun pada akhirnya masuknya mereka melalui jalur yang "tidak biasa" membuat biro wisata di Korea Utara (KITC) kelabakan dan mulai melarang secara ketat warga negara asing masuk melalui Khasan atau Tumangang.

Berwisata di Korea Utara tidak selamanya senang. Selama perjalanan di luar hotel, wisatawan akan selalu didampingi oleh pemandu wisata dari biro KITC di Korea Utara. Selain memandu wisatawan, tugas utama mereka adalah mengawasi jangan sampai para wisatawan melakukan tindakan apapun yang mencoreng nama Korea Utara di dunia internasional. Karena itulah wartawan dilarang masuk Korea Utara. Kita pun semua tahu kalau di Korea Utara banyak sekali peraturan dan batasan yang mengekang kebebasan warga negaranya. Kalau mau dijabarkan di sini, terlalu panjang.
Tapi sahabat kita ini bisa menuturkan apa yang mereka lihat dengan mata dan kepala mereka sendiri di Korea Utara, terutama selama perjalanan mereka dengan kereta api, yang mana pastinya mereka tak diawasi oleh siapapun. Setidaknya kita mendapatkan sedikit pencerahan tentang apa yang berlaku di sana, karena berita yang selama ini beredar juga belum tentu bisa dipercaya. Apa yang disampaikan oleh media dari Korea Utara tentunya hanyalah propaganda semata dan hanya boleh menunjukkan hal-hal yang positif dari negara itu. Sebaliknya, berita dari negara Barat juga bisa jadi hanyalah propaganda mereka untuk menjatuhkan Korea Utara yang telah lama mereka anggap sebagai musuh atau ancaman.
Jadi memang Korea Utara bukan negara yang menyenangkan untuk wisatawan. Bahkan telepon seluler pun dilarang di sana. Jadi telepon seluler kita akan dibungkus, lalu disegel, dan baru boleh dibuka ketika kita akan meninggalkan Korea Utara. Telepon seluler saja dilarang, apalagi internet. Gambaran selengkapnya bisa dibaca di blog yang sudah aku tulis linknya di atas.

Helmut (kiri) dan Oliver (kanan) di depan gerbong kereta api Moscow-Pyongyang

Helmut ternyata senang berwisata. Selain di Pyongyang, ia pun telah menulis blog perjalanannya di tempat lain, seperti berkeliling Eurasia dan menuju Iran melewati Pegunungan Kaukasus. Tapi memang harus diakui, perjalanan ke Korea Utara ini adalah perjalanan yang paling menantang dan mengesankan baginya.
Setelah aku membaca blognya, aku pun meninggalkan komentar singkat. Aku mengajaknya untuk berkunjung ke Indonesia, sebuah negara yang indah dan pas untuk berwisata. Dan ternyata ada juga beberapa orang yang memintanya berkunjung ke Indonesia. Tapi aku mengajaknya melewati jalur yang tidak biasa juga, yaitu dengan kereta api jalur Eurasia, masuk ke Malaysia, Singapura, dan dari Singapura bisa naik kapal ferry menuju Batam. Aku tak tahu apakah ada jalur langsung dari Malaysia menuju jalur utama kereta api Eurasia, tapi sepertinya ada. Dan karena dia menyukai kereta api, tentulah aku mengajaknya melihat kereta api di negara ini.
Sayang memang, tidak ada jalur kereta api langsung dari Indonesia ke negara lain. Apa boleh buat, negara kita terpisah laut dengan negara lain. Kalau ada, kan enak, naik kereta api dari sini ke Rusia atau Jerman misalnya. Lebih enak naik kereta api lah, bisa tidur, main laptop, lihat pemandangan. Kalau naik pesawat terbang, sudah mahal, banyak aturannya pula. Memang lebih cepat, tapi kurang nyaman.
Helmut pun mengatakan demikian. Di akhir ceritanya, ketika pada akhirnya ia harus pulang dari Beijing ke Dusseldorf dengan pesawat terbang, dia bilang "lebih enak sepekan di dalam kereta api daripada 10 jam di pesawat terbang kelas ekonomi".

Yah, semoga kisah Helmut dapat memberi gambaran kepada anda mengenai kondisi di Korea Utara. Helmut juga berpesan, sebaiknya jangan masuk Korea Utara melalui Khasan atau Tumangang, kecuali anda memang nekat seperti dia.

Sri Temasek (Catatan Perjalanan 5 Hari di Singapura)

Suatu hari, aku dapat panggilan telepon dari ayah. Dia ajak aku melancong ke Singapura. Kebetulan ada tiket kapal terbang murah dari Jakarta ke Batam, dan dari sana naik kapal ferry ke Singapura. Sebenarnya ini ajakan mendadak karena untuk bulan Desember aku dah buat rencana kegiatan. Tapi akhirnya aku ikut serta. Kapan lagi ke Singapura kan???
Tanggal 22, aku berangkat. Pagi-pagi sekali. Sampai di Batam pun masih pagi. Sebenarnya di awal sudah terpikir mau naik kapal ferry lewat pelabuhan Batam Center. Tapi ternyata ada alternatif lain, yaitu lewat pelabuhan Nongsapura. Ada kapal ferry langsung ke pelabuhan Tanah Merah, Singapura. Kebetulan pula tempat kami tinggal nanti letaknya di Tanah Merah, jadi tak jauh. Akhirnya kami lewat Nongsapura.
Ternyata memang pilihan kami tak salah. Waktu tempuh kapal ferry lewat Nongsapura selama 30 menit (lebih sedikit), dibandingkan lewat Batam Center yang lebih lama, 1 jam lebih. Jadi pas untuk anda semua yang ada penyakit laut.
Tiket ferry bisa dibeli langsung di Lapangan Terbang Hang Nadim, ada loketnya di sana. Keterangan lebih lanjut, sila kunjungi laman http://www.batamfast.com.

Aku harus akui bahwa perjalanan 5 hari ini terkesan biasa-biasa saja. Sepertinya Singapura dari dulu gitu-gitu saja, tak banyak perubahan. Dan tempat yang aku kunjungi pun akhirnya itu-itu saja. Orchard Road, Merlion, Esplanade, udah. Sudah 3 kali ke Bandar Temasek, ke sana juga kunjungannya.
Tapi adalah tempat-tempat baru yang aku kunjungi. Contohnya Marina Bay Sands (disingkat MBS) yang memang baru dibuka beberapa masa silam. Satu yang menarik di sini adalah pemandangan dari lantai 52 gedung ini. Kita bisa melihat pusat bandar Singapura dan gedung-gedung yang melingkupinya. Dan yang paling menarik tentu saja kolam renang di tingkat 52 yang mana kolam renang tersebut langsung menghadap langit. Hampir tak ada pembatas antara kolam renang dan langit. Sambil berenang, kita bisa melihat pemandangan bandar Singapura.
Tempat lain yang aku kunjungi adalah Resort World Sentosa, sebuah resor di Pulau Sentosa yang dimiliki oleh perusahaan yang juga membina Genting Highland, Malaysia. Di sini pun ada kasino, sama macam di Genting. Dan daya tariknya tentulah Universal Studios, sebuah taman hiburan (theme park) yang menyajikan aneka ragam fitur dan seluk-beluk yang berkenaan dengan Universal Studio di Amerika sana yang telah menghasilkan ribuan filem dan hampir seluruhnya diminati di serata dunia. Karena aku bukan penyenang filem Hollywood, ditambah lagi cuaca yang panas dan antrian panjang selama aku ke sana, aku tak begitu menikmati kunjungan ke tempat ini. Dan aku harus akui, taman ini tidak lebih baik dari Disneyland di Hong Kong yang pernah aku kunjungi beberapa masa silam.

Marina Bay Sands

Resort World Sentosa

Selain tempat-tempat di atas, ya tentu saja tempat-tempat yang biasa aku (dan juga pelancong lain) kunjungi. Sudah pasti Orchard Road. Tiga hari aku ke sana, walaupun harus menempuh perjalanan jauh dengan kereta api MRT atau bis kota. Entah apa daya tarik dan magnet di jalan ini, aku pun tak tahu. Yang pasti, jalan ini begitu fenomenal.
Tidak ada yang berubah di Orchard, kecuali mungkin pusat perbelanjaan baru seperti ION dan 313 Somerset. Lautan manusia masih seperti dulu dan akan tetap seperti yang dulu. Jualan murah hari Natal juga masih ada. Makanan, minuman, dan es potong pun masih seperti dulu.
Tapi Singapura tetap menarik. Orang-orang tak pernah jemu pergi ke sana. Apa mungkin karena situasi dan kondisinya yang lebh teratur dan lebih rapi dibandingkan negara-negara sekawasan seperti Indonesia, Malaysia, dan Thailand??? Bisa jadi, dan Singapura pantas untuk dijadikan bahan pembelajaran atau contoh model pembangunan.

Yah, karena perjalanan kemarin itu biasa-biasa saja, maka tulisan ini pun akhirnya jadi biasa-biasa saja, tak seperti perjalananku ke Hong Kong beberapa waktu lalu yang memang cukup menarik dan berkesan.

Foto-foto Menarik di Hong Kong, Macau, dan Shenzhen...

Klik gambar untuk melihat dalam ukuran lebih besar.

Iklan konser S.H.E. di Venetian Macau

Gambar mural di Macau


Iklan layanan masyarakat di Macau dalam bahasa Mandarin, Portugis, dan Inggris

Ada mobil Doraemon di Macau

Permen Kopiko pun ada di Macau

Lautan motor di Macau

Salah satu toko suvenir di Macau, sambutan dalam bahasa Tagalog (Bili na kabayan) dan bahasa Indonesia (Selamat Datang)

Foto pengantin di depan Gereja Santo Paulus, Macau

Taksi di Macau (Corolla Altis)

Patung dari pasir tengah dibuat di Disneyland Hong Kong

Kumpulan anak-anak sekolah tengah berwisata di Disneyland Hong Kong

Iklan filem Eclipse di Hong Kong

Iklan (lagi) di Hong Kong



Mobil-mobil mewah di Hong Kong : Toyota Alphard, Audi, Porsche Carrera GT

Pengumuman anti-rokok di Convention Center Hong Kong. Ada juga dalam bahasa Indonesia.

Sambutan selamat datang di Ngong Ping 360, lagi-lagi ada juga dalam bahasa Indonesia.

"Surya Mart", toko Indonesia di daerah Tung Chung


"Fade Out", seni instalasi di Ngong Ping yang menyadarkan kita tentang bahaya sampah plastik

Ngong Ping, kampung tanpa kantong plastik

Salah satu pusat belanja di Shenzhen

Halte bis di Shenzhen

Bis di Shenzhen




Mobil-mobil di Shenzhen

7UP, minuman yang paling sering ditemui di Shenzhen

Enaknya si bapak tidur di pangkuan istrinya (entah itu istrinya atau bukan), di Window of the World, Shenzhen

Kisah Perjalanan 3 Kota (Bagian IV-Selesai)

Sebelum berangkat ke Shenzhen, kami menyempatkan diri berkunjung ke Ngong Ping 360, sebuah wahana kereta gantung di Pulau Lantau. Ternyata antriannya cukup ramai, dan sekitar 30 menit baru kami bisa naik kereta gantung. Jalur kereta gantungnya adalah salah satu yang terpanjang di dunia. Dari dalam kereta gantung, kami juga bisa melihat Bandar Udara Internasional Hong Kong.
Tiba di Ngong Ping, ada patung Buddha yang besar dan perkampungan yang indah.

Jalur kereta gantung Ngong Ping 360

Bandar Udara Hong Kong, terlihat dari kereta gantung

Patung Buddha Tian Tan dan gerbang jalan menuju ke sana

Siangnya kami langsung pulang ke hotel untuk persiapan menuju Shenzhen. Perjalanan menuju Shenzhen sekitar 1 jam, dan tiba di sana harus mengurus keimigrasian terlebih dahulu, sebelum melanjutkan perjalanan menuju kota Shenzhen.
Shenzhen adalah sebuah Zona Ekonomi Khusus yang didirikan oleh pemerintah Republik Rakyat China. Kota ini pada awalnya hanyalah desa yang sunyi, sampai pada tahun 1970 ketika presiden Deng Xiaoping mengubah Shenzhen menjadi sebuah pusat perdagangan. Penduduk awalnya hanya 20.000 jiwa, sekarang menjadi 10 juta jiwa. Luas awalnya hanya 50 km2, sekarang telah bertambah menjadi 2.050 km2. Benar-benar berubah.
Dari Shenzhen, kita bisa melihat gambaran China. Cukup berbeda dengan Hong Kong. Penduduknya tidak begitu ramah dan kebanyakan tidak bisa berbahasa Inggris. Kebersihan juga menjadi masalah utama di sini. Walaupun demikian, daerah di sini masih hijau. Transportasi juga cukup memadai, ada taksi, bis kota, dan kereta bawah tanah.

Pusat imigrasi Shenzhen Bay

Pemandangan kota Shenzhen

Malamnya kami belanja di Luohu. Di sana bisa mendapatkan berbagai barang dengan harga miring. Beda harganya antara bumi dan langit dengan harga di Hong Kong. Tak heran kalau warga Hong Kong senang belanja di sini, karena aksesnya juga mudah. Mobil Hong Kong bisa masuk China, tapi mobil China tak bisa masuk Hong Kong, entah kenapa.
Di Luohu, handphone Nokia N95 bisa didapat dengan harga RMB900 (sekitar 1 juta rupiah). Padahal harga aslinya lebih tinggi dari itu. Sepatu juga harganya di bawah RMB100 (di bawah seratus ribu rupiah). Tentu saja itu bukan barang-barang asli. Ada yang kata "aspal" (asli tapi palsu).
Esoknya kami melakukan perjalanan berkeliling Shenzhen. Pertama, kami ke tempat penjualan batu giok milik pemerintah Republik Rakyat China. Harga batu giok juga bisa ditawar. Liontin seharga RMB1600 bisa dibeli dengan harga RMB300. Patung seharga RMB8000 bisa ditawar harganya jadi RMB1000. Gila.
Dari sana, kami ke tempat penjualan obat dengan bahan-bahan tradisional. Di sana juga bisa periksa kesehatan. Ketika dokter memeriksa tanganku, dokter bilang liver aku terlalu banyak racun dan harus dibuang. Kenapa mukaku banyak jerawat, karena itu adalah tempat pembuangan racun. Dokter bilang, aku terlalu banyak makan goreng-gorengan. Yah, apa boleh buat, itulah makanan yang murah selama aku tinggal merantau sendiri. Setelah itu, dokter menawarkan aku untuk minum obat dari ramuan tradisional seharga RMB1500. Aku langsung menolak. Mahal sekali. Tapi dokter itu terkesan memaksa untuk membeli. Maklum saja, di sana tempat bisnis obat.
Siangnya kami ke Window of The World, sebuah daerah yang berisi miniatur berbagai negara di dunia. Cuaca di sana panas sekali, jadi perjalanan agak kurang bisa dinikmati. Aku terkejut karena di sana ada Borobudur milik Indonesia. Ternyata orang China juga tahu Borobudur. Perjalanan di sana menggunakan kereta kecil. Tidak mungkin berjalan kaki, bisa mati lemas.


Window of the World


Piramida

Borobudur


Istana Rattanakosin, Thailand

Dari Window of the World, kami ke Splendid China, sebuah daerah yang menunjukkan kebudayaan China dan juga suku-suku minoritas di China. Banyak pertunjukan yang menarik di sini. Ada aksi teatrikal suku-suku minoritas, atraksi perang suku Mongol dengan menggunakan kuda (melihat atraksi ini harus mampu menahan bau kotoran kuda yang menyengat sekali), dan juga pertunjukan puncak pada malamnya yaitu aksi gabungan teatrikal, tari-tarian, dan juga akrobatik, ditambah lagi dengan sinar laser dan cahaya api yang cukup menawan.

Esoknya kami pulang ke Hong Kong untuk kemudian kembali ke Jakarta. Ternyata imigrasi di Shenzhen Bay pada hari itu cukup sibuk sehingga kami harus mengantri sekitar 30 menit. Total perjalanan dari Shenzhen ke Bandar Udara Hong Kong sekitar 1 jam 30 menit. Kami pun pulang ke Jakarta. Aku sudah rindu rumah. Sejauh-jauhnya kita berpergian, tetap rumah kita yang sehari-hari kita hunilah yang paling nyaman.
Maka selesailah kisah perjalanan di Delta Sungai Mutiara. Semoga di lain waktu aku bisa kembali lagi ke sana.