HUBAYA-HUBAYA!!! MOHON MAAF... UNTUK KALI INI, PERMINTAAN CD DAN DVD ISO LINUX TIDAK BISA DIPENUHI UNTUK SEMENTARA WAKTU... SEKIRANYA ADA KEMUNGKINAN UNTUK MEMENUHI PERMINTAAN, AKAN DIUMUMKAN LEBIH LANJUT... TERIMA KASIH DAN MOHON MAAF UNTUK YANG TELAH MEMESAN ISO LINUX... HARAP MAKLUM... TABIK...
Tampilkan postingan dengan label menarik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label menarik. Tampilkan semua postingan

Foto-foto Menarik di Hong Kong, Macau, dan Shenzhen...

Klik gambar untuk melihat dalam ukuran lebih besar.

Iklan konser S.H.E. di Venetian Macau

Gambar mural di Macau


Iklan layanan masyarakat di Macau dalam bahasa Mandarin, Portugis, dan Inggris

Ada mobil Doraemon di Macau

Permen Kopiko pun ada di Macau

Lautan motor di Macau

Salah satu toko suvenir di Macau, sambutan dalam bahasa Tagalog (Bili na kabayan) dan bahasa Indonesia (Selamat Datang)

Foto pengantin di depan Gereja Santo Paulus, Macau

Taksi di Macau (Corolla Altis)

Patung dari pasir tengah dibuat di Disneyland Hong Kong

Kumpulan anak-anak sekolah tengah berwisata di Disneyland Hong Kong

Iklan filem Eclipse di Hong Kong

Iklan (lagi) di Hong Kong



Mobil-mobil mewah di Hong Kong : Toyota Alphard, Audi, Porsche Carrera GT

Pengumuman anti-rokok di Convention Center Hong Kong. Ada juga dalam bahasa Indonesia.

Sambutan selamat datang di Ngong Ping 360, lagi-lagi ada juga dalam bahasa Indonesia.

"Surya Mart", toko Indonesia di daerah Tung Chung


"Fade Out", seni instalasi di Ngong Ping yang menyadarkan kita tentang bahaya sampah plastik

Ngong Ping, kampung tanpa kantong plastik

Salah satu pusat belanja di Shenzhen

Halte bis di Shenzhen

Bis di Shenzhen




Mobil-mobil di Shenzhen

7UP, minuman yang paling sering ditemui di Shenzhen

Enaknya si bapak tidur di pangkuan istrinya (entah itu istrinya atau bukan), di Window of the World, Shenzhen

Hal yang Menarik di Hong Kong, Macau, dan Shenzhen...

Beberapa hal yang aku pelajari dan aku pahami di Hong Kong :

  1. Biaya hidup di Hong Kong mahal, termahal kedua di Asia setelah Jepang. Air putih satu botol HK$10 (sekitar Rp10.000). Makanan sepiring rata-rata HK$25 (sekitar Rp25.000). Sewa rumah satu bulan HK$7000 (sekitar Rp7.000.000), padahal gaji karyawan satu bulannya HK$8000
  2. Di Hong Kong banyak orang kaya. Di jalan raya kita dengan mudahnya menemukan mobil-mobil mahal seperti Toyota Alphard, BMW, Mercedes-Benz, Volvo, Porsche, malah aku juga pernah menemukan sedan Bentley. Artinya mereka hanya mau beli mobil kalau sudah kaya, dan mobilnya juga mobil mewah. Kalau belum kaya, mereka tak mau beli mobil, dan ke mana-mana lebih memilih naik bis, MTR, atau taksi.
  3. (kalau menurut pendapatku) di Hong Kong banyak gadis-gadis cantik yang tampilannya juga modis dan tubuh seimbang.
  4. Orang Hong Kong tergolong sopan dan mau membantu orang lain, termasuk juga menolong turis asing yang kesulitan walaupun dengan bahasa Inggris yang seadanya.
  5. Orang Hong Kong tengah menyukai segala hal yang berbau Jepang, entah itu makanannya, filemnya, anime, dorama, J-Pop, J-Rock, dan lain-lainnya. Beberapa toko sering memutar lagu Jepang, lebih sering daripada lagu Kantonis atau Mandarin. Termasuk juga Doraemon, sangat disukai di Hong Kong.
  6. Kedisiplinan di Hong Kong tidak terlalu baik dan juga tidak terlalu buruk, belum bisa dibandingkan dengan Singapura. Kalau menyeberang jalan, tidak perlu menunggu lampu hijau, asal mobil sudah kosong silakan saja menyeberang. Di beberapa tempat yang terpampang peraturan "Dilarang makan dan minum", tetap saja ada yang makan dan minum.

Beberapa hal yang aku pelajari di Macau :

  1. Ekonomi Macau bisa lumpuh tanpa pariwisata dan judi. Bayangkan, di wilayah seluas kurang dari 100 km2, apa lagi yang bisa diandalkan??? Akhirnya bisnis pariwisata dan kasino juga yang menjadi pemasukan terbesar. Macau termasuk perintis WTO (World Tourism Organization, serikat pariwisata dunia).
  2. Macau adalah koloni Portugis terakhir sampai pada tahun 1999, ketika Macau diserahkan dari pemerintah Portugal kepada Republik Rakyat China. Diserahkannya Macau menjadi akhir dari kisah penjajahan bangsa Portugis selama lebih dari 500 tahun. Penjajahan Portugis adalah yang terlama di dunia, mulai dari Ceuta pada tahun 1415 sampai Macau pada tahun 1999. Macau adalah salah satu dari koloni Portugis di Asia, selain dari Timor Leste, Goa (India), Ternate (Indonesia), dan Malaka (Malaysia).
  3. Sebenarnya Macau punya mata uang sendiri, namanya pataca. Tapi kenyataannya, Dollar Hong Kong lebih sering dipakai. Sampai sekarang aku tidak punya selembar pun uang pataca, walaupun aku sudah pernah ke Macau. Semua toko menerima transaksi dalam dollar Hong Kong. Harga keduanya tidak berbeda jauh.
  4. Macau cuma punya 3 rumah sakit untuk 500.000 orang. Bagaimanapun, Macau juga punya puskesmas yang berukuran kecil di beberapa tempat.

Beberapa hal yang aku pelajari di Shenzhen :

  1. Sampai pada tahun 1970-an, Shenzhen adalah sebuah desa yang sunyi. Setelah Deng Xiaoping menjadikan daerah ini sebagai zona ekonomi khusus, keadaan berubah drastis. Shenzhen menjadi kota yang ramai dan modern. Penduduknya berubah dari 20.000 jiwa menjadi 10 juta jiwa. 
  2. 80% penduduk Shenzhen adalah pendatang dari provinsi lain di China. Tak heran, bahasa Kantonis jarang terdengar di sini, lebih sering bahasa Mandarin.
  3. Shenzhen adalah China. Karena itu, sifat-sifat orang China Daratan bisa dilihat di sini. Mereka agak kurang sopan, kurang ramah terhadap wisatawan asing, dan gaya hidupnya juga tidak terlalu bersih. Hal seperti ini juga bisa dilihat pada wisatawan China yang berkunjung ke Hong Kong atau Macau.
  4. Di Shenzhen tidak ada sepeda motor. Pemerintah menetapkan kota Guangzhou, Dongguan, dan Shenzhen di Provinsi Guangdong sebagai kota yang bebas dari sepeda motor.
  5. Di Shenzhen tidak ada polisi keliling. Di setiap sudut kota terpasang kamera yang menangkap beberapa pengguna jalan yang nakal dan melanggar peraturan. Siapa yang tertangkap kamera akan terpampang di televisi lokal dan harus lapor ke kantor polisi untuk kemudian dikenakan denda. Kamera juga terpasang di dalam bis dan kereta bawah tanah.

Filipina, Tak Jauh Beda dengan Kita...

Tak etis rasanya apabila kita membandingkan negara kita dengan Malaysia. Malaysia sudah melesat jauh dan menjadi negeri yang lebih maju dari kita (padahal kita yang membesarkan mereka), walaupun Malaysia beradat resam Melayu dan mayoritasnya adalah pemeluk Islam. Lebih baik membandingkan negara kita dengan negara yang satu ini: Republika ng Pilipinas, Republik Filipina.
Pernah aku melihat sebuah tayangan di Channel News Asia yang membahas tentang nasi, dan tayangan itu pun membahas peranan nasi di Filipina. Ternyata ada makanan-makanan mereka yang sama dengan makanan khas kita. Mereka punya puto bombong, yaitu sejenis kue putu tapi berwarna ungu karena dicampur talas, dan dioles mentega di atasnya (di Indonesia kue putu ditaburi kelapa). Ada juga yuklut, yang ternyata mirip dengan lemang, makanan khas Melayu yang biasa dimasak pada waktu Hari Raya. Dan Filipina pun punya nasi kuning, dengan nama yang berbeda, tapi aku lupa namanya. Sebelumnya aku berfikir nasi kuning hanya ada di Jawa Barat, tanah Sunda, tapi ternyata di Filipina pun ada.
Boleh dikatakan, Filipina mirip dengan Indonesia. Bahasa nasional mereka, Tagalog, adalah rumpun bahasa Austronesia (serumpun dengan bahasa Melayu). Filipina pun punya bahasa-bahasa daerah lain yang juga termasuk rumpun Austronesia. Filipina juga merupakan sebuah negara kepulauan, sama dengan Indonesia. Di sebuah serial Filipina yang ditayangkan di TV7 (sebelum namanya berubah menjadi Trans 7), aku lihat perkampungan nelayan di sana hampir sama dengan di sini. Rumahnya berbentuk rumah panggung, berdinding rotan, dan berpagar bambu. Kulit mereka pun sama, sawo matang, dan dengan jujur mereka mengaku kalau mereka juga bagian dari rumpun bangsa Melayu.
Ibukota Filipina, Manila, yang terdiri dari dari 17 kotamadya (seperti Jakarta yang terdiri dari 5 kotamadya), keadannya tak jauh beda. Walaupun Manila sudah punya MRT dan LRT (Jakarta belum punya), jalanan tetap padat dan sesak. Polusi udara terasa, dan sampah pun bertebaran di mana-mana. Mereka juga punya sebuah angkutan umum yang khas bernama Jeepney. Jeepney ini boleh ditumpangi oleh 7-8 orang, dan jika ingin turun harus mengetuk atapnya sehingga supir akan berhenti. Sama seperti mikrolet di Jakarta.
Keadaan geografis Filipina tak jauh beda dengan Indonesia. Filipina memiliki banyak sawah dan ladang, sehingga tanahnya subur. Garis pantainya panjang, hasil ikannya melimpah. Pantai-pantainya pun tak kalah indahnya dengan pantai di Indonesia. Filipina juga sama seperti Indonesia, rawan bencana alam seperti gempa, letusan gunung, dan badai El Nino. Rakyat Filipina pun masih banyak yang hidup di bawah garis kemiskinan. Angka pengangguran di sana cukup tinggi. Perkampungan kumuh pun terdapat di mana-mana.
Filipina juga memiliki sejarah yang hampir sama dengan kita, yaitu pernah dipimpin oleh presiden yang otoriter. Dia adalah Ferdinand Marcos. Kebijakannya suka-suka sendiri dan tidak ada yang bisa melawannya. Memamg pertumbuhan ekonomi Filipina membaik tetapi rakyat merasa tersiksa. Akhirnya rakyat meluncurkan gerakan People Power (bahasa Tagalog: Lakas ng Bayan untuk menumbangkan sang presiden. Marcos pun lari ke Hawaii dan tinggal di sana sampai akhir hayat. Situasi yang sama berlaku ketika kita dipimpin oleh Soeharto. Bedanya, keluarga Marcos dikucilkan sampai saat ini, tapi keluarga Soeharto berhasil menjalankan bisnisnya, walaupun keluarganya runtuh karena hampir semua putera-puterinya bercerai dengan suami atau isterinya.
Yang membedakan kita dan mereka adalah agama. Mayoritas warga Filipina beragama Kristen Katolik, walaupun sebagian kecil di Pulau Mindanao beragama Islam, sedangkan mayoritas warga Indonesia adalah Muslim. Filipina juga berbeda nasib. Mereka ditaklukkan Spanyol dan dijajah selama tiga ratusan tahun, kemudian diduduki lagi oleh Amerika Serikat. Indonesia dijajah Belanda, lalu dijajah lagi oleh Jepang. Adapun dulunya di Filipina telah berdiri kesultanan-kesultanan Islam dan mayoritas warganya memeluk Islam, tetapi kemudian ditaklukkan Spanyol dan Spanyol berhasil menyebarkan ajaran Kristen kepada warga, sedangkan di Indonesia usaha Belanda untuk mengajak warga Indonesia untuk memeluk Kristen gagal.
Suatu saat nanti, aku ingin ke Filipina, sebuah negara yang eksotis dan memiliki daya tarik tinggi. Sayang impianku belum bisa terwujud, tapi akan tiba masanya. Walau bagaimanapun, aku tetap bangga dengan negaraku, Indonesia...

Kenapa Aku Keberatan Dipanggil "Kakak"?

Ada perasaan tak enak dalam hatiku kalau orang-orang yang lebih muda dariku memanggilku "kakak". Aku lebih senang dipanggil "abang". Lebih senang lagi kalau dipanggil "mas" atau "kangmas", karena sesuai tradisi Jawa (walau aku bukan Jawa), apabila orang yang lebih tua memanggil kita dengan sebutan "kangmas", artinya orang tersebut respect terhadap kita. Tapi aku tetap keberatan kalau dipanggil "kakak". Ada dua alasan :


  1. Dalam perbendaharaan kata bahasa Melayu asli, kata "kakak" hanya digunakan untuk memanggil perempuan yang lebih tua dari kita, tetapi masih sepantaran. Tentu saja karena aku lelaki, aku keberatan dipanggil "kakak". Kata bahasa Melayu yang benar untuk memanggilku adalah "abang". Entah mengapa dalam bahasa Indonesia, entah laki-laki entah perempuan dua-duanya disebut "kakak", dengan membedakan antara "kakak laki-laki" dan "kakak perempuan". Padahal jelas salah. Aku sedang mencari penjelasannya lebih lanjut. Sedangkan di Malaysia, kata "abang" dibakukan.

  2. Sebagai orang yang terlahir dari keluarga Batak Toba, sudah tradisi adik-adikku memanggilku "abang". Kata "abang" dan "kakak" memang semakin sering dipakai di dalam masyarakat Batak, walaupun bahasa Batak juga memiliki kata yang tepat, yaitu "angkang" (baca : akkang) untuk abang/kakak sejenis kelamin, dan "iboto" untuk abang/kakak ataupun adik yang berbeda jenis kelamin. Untuk adik sejenis kelamin, pakailah kata "anggi".


Demikianlah kenapa aku keberatan dipanggil "kakak". Waktu aku SMA, kalau adik kelas memanggilku "kakak", aku langsung bilang "Tolong ya, jangan panggil aku 'kakak', aku kurang enak hati,". Tapi kalau dipanggil "abang", "aa" (di Jawa Barat), "kangmas", atau "koko" (di kalangan orang Tionghoa), aku tak keberatan, karena padanannya pas. Begitu juga untuk siapapun yang menyapaku, mohon dengan sangat, jangan panggil aku "kakak".