HUBAYA-HUBAYA!!! MOHON MAAF... UNTUK KALI INI, PERMINTAAN CD DAN DVD ISO LINUX TIDAK BISA DIPENUHI UNTUK SEMENTARA WAKTU... SEKIRANYA ADA KEMUNGKINAN UNTUK MEMENUHI PERMINTAAN, AKAN DIUMUMKAN LEBIH LANJUT... TERIMA KASIH DAN MOHON MAAF UNTUK YANG TELAH MEMESAN ISO LINUX... HARAP MAKLUM... TABIK...
Tampilkan postingan dengan label musibah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label musibah. Tampilkan semua postingan

Apa Terjadi Ni???

"Apa terjadi ni???" Begitulah kurang lebih kalimat keheranan yang terucap dari banyak mulut penduduk Indonesia.
Bayangkanlah, bertubi-tubi bencana demi bencana menimpa negara ini. Beberapa waktu lalu bencana menerpa Wasior, Papua Barat. Selanjutnya, gempa dan tsunami menerjang Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Pada hari yang sama, ibukota negara, Jakarta, dilanda banjir dahsyat yang melumpuhkan aktivitas warganya. Dan terakhir, Gunung Merapi, pusat kosmologi masyarakat Jawa yang cukup dikeramatkan itu, memuntahkan laharnya dan menghabisi nyawa ratusan orang serta melahap ribuan rumah dan harta-hartanya.
Cukup mengenaskan sebenarnya. Oh, bukan cuma itu bencana yang ada di negara kita sekarang ini, tapi juga "bencana" lain. Ketika bencana melanda, anggota Sri Dewan negara kita malah "pelesir" ke negara-negara luar. Dan yang terbaru, Gubernur Sumatera Barat malah berangkat ke Jerman untuk memenuhi agendanya. Apakah elok, ia bergembira ria dan bergegap gempita sedangkan warga di Mentawai, wilayah jajahannya sendiri, terlunta-lunta akibat dampak tsunami???

Ada apa ini??? Atau cakap Melayu kampung, "Apa terjadi ni???". Kenapa semua ini bisa terjadi??? Simpel saja : negara kita adalah negara yang rawan bencana.
Itu saja??? Jelas. Tak usah dengarkan orang-orang yang bilang kalau negara kita akhir-akhir ini ditimpa bencana karena Tuhan sedang murka, atau karena manusia sudah keterlaluan, manusia sudah tidak bersahabat dengan alam, atau karena korupsi merajalela di negara kita, dan lain lain lain lain lain lain lain lain(tak terhingga)-nya. Apalagi kalau menghubungkan dengan hal-hal yang berbau klenik, mistis, tidak masuk akal, sudahlah. Tak guna.
Lalu sebagai manusia yang ber-Tuhan dan beriman, kita mesti bertanya-tanya, kenapa Ia memberikan ujian ini semua kepada kita??? Aku bukan Tuhan, dan aku juga tak bisa mendengar suara Tuhan, jadi aku tak tahu. Tapi, mungkin saja sebenarnya :

  • Tuhan ingin mengingatkan kita bahwa kita sekarang tinggal di negara Indonesia, sebuah negara yang dijuluki sebagai "ring of fire" atau "cincin api". Tempat di mana gunung berapi berbaris, tempat di mana 3 kerak benua bertemu, dan keduanya memiliki hubungan yang terkait. Jadi, kita harus bersiap dan waspada.
  • Tuhan ingin menunjukkan kekuasaan dari alam yang Ia ciptakan. Bahwasanya alam tidak selalu seperti yang kita bayangkan. Daratan tidak selalu diam, lautan tidak selalu tenang seperti kaca. Alam juga melakukan proses seperti halnya makhluk hidup, walaupun pasif.
Jadi, sekarang apa yang harus kita lakukan??? Jelaslah, bantu mereka!!! Bantu saudara-saudara kita yang tertimpa musibah, dalam bentuk apapun. Bisa dalam bentuk uang atau benda konkrit langsung, misalnya pakaian, selimut, dan lainnya, tapi dua itu aku rasa penting untuk mereka. Cara lain, jadi relawan langsung ke lokasi bencana. Jangan lupa, mereka juga membutuhkan bantuan secara psikis. Mereka juga butuh penguatan karena mental mereka sudah jatuh saat bencana terjadi.
Bagi kita yang lain, ada baiknya kita bersiap siaga, karena gempa bumi dan gunung meletus itu sebenarnya cukup dekat dengan kehidupan kita. Akhir-akhir ini sudah banyak lembaga yang mengadakan simulasi gempa mendadak. Semestinya demikian. Begitu juga kita memerlukan pedoman dan pengarahan mengenai kesigapan bencana. Untuk hal ini, kita harus mencontoh Nippon yang cukup sigap dalam menghadapi bencana, karena memang negara tersebut pun rawan bencana. Mungkin masalah kesigapan ini juga perlu dimasukkan dalam kurikulum sekolah. Teknologi ke-bencana-an juga harus dioptimalkan.

Pada kesempatan ini, izinkan aku menyampaikan sedikit kegundahanku. Ada orang yang aku khawatirkan di tengah bencana ini.
Mereka adalah keluarga yang menjadi keluarga angkatku selama 5 hari pada 2 tahun silam di daerah Desa Krinjing, Kec. Dukun, Kab. Magelang. Masa itu, aku dan kawan-kawan sekolahku mengikuti rancangan tinggal di desa untuk lebih dekat dengan masyarakat kita. Aku, bersama seorang temanku yang lain, tinggal di dalam keluarga tersebut dan aku merasa sudah seperti bagian dari keluargaku sendiri. Tidur sebantal, makan sepinggan.
Nama kepala keluarga itu adalah Bapak Purwowinarto. Istri beliau bernama Ibu Daryatni. Mereka berdua memiliki 2 orang anak yang sudah berumahtangga dan tak tinggal bersama mereka lagi, dan satu anak bungsu mereka bernama Barnabas Yuswardi yang masih tinggal bersama mereka. Mereka tinggal di Dusun Dadapan, Desa Krinjing, Kec. Dukun, Kab. Magelang. Alamat persisnya aku tak tahu.
Ketika aku mendengar kabar meletusnya Gunung Merapi, jujur, pikiranku langsung tertuju kepada keluarga ini. Aku betul-betul mengkhawatirkan mereka. Berita di media massa sepertinya tak meliput keadaan di wilayah itu. Aku cari-cari telepon gereja (Gubug Selo Merapi) yang dahulu menyelenggarakan rancangan tinggal di desa itu, juga tak dapat.
Bagi sesiapa yang tahu kabar mereka, atau mungkin kenal mereka, tolong bantu aku. Silakan tulis di komentar postingan ini atau di shoutbox. Aku ucapkan terima kasih dan sembah sepuluh jari atas bantuannya.

Haiti Dilanda Duka...

Bumi kembali berguncang. Kalau beberapa bulan silam negara kita yang dilanda gempa hebat, beberapa hari yang lalu, 12 Januari 2010, sebuah negara kecil dan miskin di gugusan Karibia diguncang gempa hebat yang diperkirakan mencapai lebih dari seratus ribu orang.
Haiti. Itulah nama negara itu. Mungkin cukup asing bagi telinga orang Indonesia. Maklum saja, selain letaknya yang sangat jauh dan luasnya yang kecil, Haiti juga tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Indonesia. Terakhir kali aku mendengar berita tentang Haiti (sebelum gempa) adalah bahwa sebagian rakyatnya yang terhimpit kemiskinan terpaksa makan tanah. Makan tanah??? Aku tidak bohong, beritanya bisa dilihat di sini. Padahal di Indonesia, semiskin-miskinnya manusia masih berusaha untuk mencari sesuap nasi atau makanan pokok lainnya.
Haiti memang negara miskin. Pendapatan per kapitanya sekitar US$800 (di bawah Indonesia, US$2200). Karena itulah ketika gempa melanda, negara itu seperti mati suri. Bukan apa-apa, pusat gempa dekat sekali dengan ibukota Haiti (Port Au Prince), sekitar 12 km. Banyak bangunan, termasuk istana presiden, rusak parah. Mereka tak bisa menanggulanginya sendiri, dan harus mendapatkan pertolongan dari negara lain. Yang pertama kali bertindak ialah PBB dan Amerika Serikat.
Walaupun negara kita belum sepenuhnya pulih dari bencana gempa yang melanda beberapa masa silam, tak ada salahnya untuk membantu Haiti. Jangan hanya kita yang ditolong, tapi kita tak mau membantu negara lain. Apalagi bencana ini adalah bencana skala internasional. Bila tak mampu menyokong harta dan tenaga, membantu dalam doa pun berguna. Semoga Tuhan melindungi Haiti dan Haiti boleh kembali bersenyum...

Duka di Ranah Minang

Bumi kembali bergoncang. Belum selesai derita kita atas korban gempa di Jawa Barat, kini gempa pun terjadi di Sumatera Barat. Tuhanku, apa yang Kau inginkan atas semua ini?
Tak main-main, korban tewas diperkirakan mencapai 200 jiwa, sedangkan ribuan rumah hancur dan banyak di antaranya rata dengan tanah. Sebelumnya gempa dikabarkan berpotensi tsunami, tetapi isu tersebut tidak berlaku. Lihat video di atas, warga sangat panik dan berusaha menyelamatkan diri. Sungguh ironis.
Tadi siang aku makan di rumah makan padang dan aku berbicara sedikit dengan pemilik rumah makan, katanya banyak saudaranya di Padang yang rumahnya hancur. Sampai aku makan di sana tadi siang ia masih menunggu kabar dari Padang. TV di sana pun menayangkan berita gempa. Rencananya akhir pekan ini dia akan pulang ke Padang untuk mengunjungi keluarganya. Beberapa temanku di kampus yang berasal dari Padang pun sempat panik, tetapi syukurlah keluarganya selamat.
Sungguh, kita semua tak mengerti apa yang Tuhan inginkan saat ini. Namun yang pasti, rencanaNya selalu indah, kita saja yang tak menyadarinya. Untuk dunsanak di Ranah Minang, tetaplah tegar dalam menghadapi cobaan ini. Kami akan memberikan bantuan yang terbaik untuk Kalian.