HUBAYA-HUBAYA!!! MOHON MAAF... UNTUK KALI INI, PERMINTAAN CD DAN DVD ISO LINUX TIDAK BISA DIPENUHI UNTUK SEMENTARA WAKTU... SEKIRANYA ADA KEMUNGKINAN UNTUK MEMENUHI PERMINTAAN, AKAN DIUMUMKAN LEBIH LANJUT... TERIMA KASIH DAN MOHON MAAF UNTUK YANG TELAH MEMESAN ISO LINUX... HARAP MAKLUM... TABIK...

Rapunzel: A Tangled Tale

Lagi-lagi aku bicara filem.
Ya, kali ini tentang sebuah filem buatan Walt Disney Pictures yang menurutku adalah yang terbaik untuk tahun ini. Tajuknya ialah "Rapunzel: A Tangled Tale". Ini aku tak tahu animasi tentang Rapunzel versi ke-berapa, tapi yang jelas menurutku inilah yang terbaik.
Filem ini dirilis ke dalam 2 versi: versi biasa dan versi 3D. Aku sengaja tak tonton yang 3D, karena takut pusing kepala. Lagipun untuk aku yang memakai kacamata minus, menonton 3D bukanlah hal yang menyenangkan karena hanya akan menonton bayang-bayang samar.
Walaupun filem ini filem animasi, tapi semua umur boleh tonton, bukan hanya anak-anak saja. Filem ini berhasil dikemas agar bisa disaksikan semua kalangan, terlihat dari dialog, penampakan fisik animasinya, dan juga ceritanya. Termasuk aku yang sudah bercambang dan bermisai, bukan jadi alasan untuk tidak menonton filem ini.

Rapunzel dan penggorengannya, yang nantinya akan jadi senjata berguna

Aku sendiri sebelum menonton filem ini benar-benar buta akan cerita tentang Rapunzel. Maklumlah, aku lebih akrab dengan dongeng orang Melayu atau Jawa daripada dongeng orang putih seperti Rapunzel karangan Brothers Grimm dari Jerman ini. Yang aku tahu, Rapunzel adalah seorang gadis yang berambut amat panjang. Itu saja.
Ternyata ceritanya lebih dari itu. Intinya, Rapunzel adalah seorang tengku puteri yang ajaib. Saat ibunya melahirkan, ibunya alias raja permaisuri menderita sakit, lalu dapatlah tanaman ajaib dari seberang pulau yang dapat menyembuhkan sakitnya. Tanaman ini juga membuat seorang bomoh atau penyihir yang bernama Gothel menjadi lebih muda. Sang Puteri pun lahir, dengan rambut emasnya yang panjang. Rambut tersebut selain panjang, juga sangat ajaib karena dapat menyembuhkan berbagai macam penyakit.
Gothel sangat menginginkan rambut puteri itu. Sayang, ia hanya berhasil memotong sebagian rambut sang puteri itu. Akhirnya Gothel memutuskan untuk menculik sang puteri yang masih bayi. Sejak saat itu, Raja dan Raja Permaisuri tak pernah berjumpa dengan puterinya. Untuk mengenang puterinya, setiap hari ulang tahun sang puteri, mereka berdua melepas lampion ke awang-awang.
Rapunzel, si puteri ajaib itu, beranjak dewasa. Rambutnya sangat sangat sangat sangat panjang, tak terbilang panjangnya. Memang sengaja tidak dipotong agar kesaktiannya untuk menyembuhkan orang sakit tak lenyap.
Sampai menjelang ulang tahunnya yang ke-18, ia tak pernah keluar dari rumahnya yang amat tinggi itu. Ia tak dilepas oleh Gothel, yang dia anggap sebagai ibunya. Setiap hari ulang tahunnya, ribuan lampion yang disangka Rapunzel sebagai "bintang" dilepas dari istana. Ia hanya bisa memandang bintang-binang tersebut dari balik tingkap rumah, padahal ia sangat ingin melihatnya secara langsung. Ia mengajukan ini kepada ibunya, tapi Gothel melarang.
Kita mengarah ke kisah lain. Seorang pencuri bernama Flynn Rider masuk dalam daftar pencarian orang oleh kerajaan. Ia diburu di mana-mana. Ia telah mencuri mahkota sang puteri. Suatu masa, secara tak sengaja ia bersembunyi di rumah Rapunzel. Rapunzel menyangka Flynn Rider seorang jahat dan mengurungnya di dalam lemari, setelah beberapa kali menghantam Flynn Rider dengan penggorengannya. Rapunzel pun berpikir bahwa ia bisa menunjukkan hal tersebut kepada Gothel, bahwa ia sudah dewasa dan bisa menghindari ancaman-ancaman di luar rumah sana. Sayang, Gothel tetap tidak melarang. Akhirnya, Rapunzel punya akal. Ia meminta Gothel mencari bahan untuk melukis sebagai hadiah ulang tahunnya, karena Rapunzel suka melukis. Gothel pun pergi, dan akhirnya dengan sedikit kesepakatan dengan Flynn Rider, Rapunzel lari dari rumah untuk menikmati "bintang-bintang" itu secara langsung. Bermacam-macam halauan dan rintangan mereka berdua hadapi agar bisa selamat, termasuk dengan Gothel yang telah bersekongkol dengan dua "bekas kawan" Flynn Rider sesama pencuri yang dendam karena tidak mendapatkan mahkota puteri dari istana.

Rambutnya yang terlampau panjang membuatnya bisa turun dari rumahnya yang tinggi

Cerita lengkapnya aku tak akan ceritakan, silakan tonton di bioskop terdekat. Yang pasti, akhir ceritanya SANGAT SANGAT SANGAT SANGAT bahagia. Rapunzel kembali ke kedua orangtuanya dan hidup bahagia bersama mereka.
Dan filem ini juga SANGAT SANGAT SANGAT SANGAT direkomendasikan untuk ditonton. Filem ini mendekati sempurna dan mampu memikat para penontonnya. Alur ceritanya membuat banyak orang, termasuk aku, yang belum memahami sepenuhnya cerita tentang Rapunzel, jadi tahu ceritanya. Jadi tidak ada lagi istilah "tanya dulu, baru tonton". Tak lupa, ada juga unsur lawak dalam filem ini, dijamin akan membuat kamu semua tergelak. Jadi tidak 100% serius, tidak 100% lawak, tidak 100% sedih. Semua bercampur jadi satu.
Efek animasinya juga cukup menawan dan mengesankan. Sebagian orang memang menyayangkan animasi manusia-nya yang tidak begitu nyata, termasuk matanya yang terlalu besar. Tapi tolonglah, ini bukan filem serius, jadi animasinya juga janganlah terlalu serius. Jadi, untuk aku animasinya sangat baik. Walaupun manusia-nya tidak tampak nyata, tapi objek-objek di sekitarnya tampak nyata, seperti air dan pohon yang nampak dalam filem ini.
Kalau masih tayang di bioskop terdekat, segeralah tonton. Kamu tak akan rugi. Nilaiku, hmmm, aku berani tanggung malu : 10/10 untuk filem ini!!!
Sekian review filem kali ini. Banyak-banyaklah tonton filem, biar hati senang. Terima kasih. Tabik.

Berkunjunglah ke laman resminya : http://disney.go.com/disneypictures/tangled

Dilema "Keistimewaan" Yogyakarta...

Sampeyan Dalem ingkang Sinuhun, Ke Bawah Duli Yang Maha Mulia Tuanku Paduka Sri Sultan Hamengkubuwono X, saat ini tengah dilanda kegusaran yang cukup pelik. Tuanku, seorang Sultan daripada Kesultanan Yogyakarta yang juga menjabat sebagai Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), saat ini dikhawatirkan kehilangan pangkatnya sebagai gubernur daerah itu. Bagaimana tidak, beberapa hari silam ada rumor berhembus bahwa Presiden SBY meminta agar di Yogyakarta diadakan pemilihan gubernur secara demokratis, dengan pengertian bahwa semua orang bisa jadi gubernur di Yogyakarta, bukan hanya Sultan atau Sri Paku Alam sebagai wakilnya saja. Dengan kata lain, meminta agar keistimewaan di Yogyakarta yang sudah melekat pada namanya, dihapus.
Sontak, pro-kontra bermunculan di mana-mana. Di dunia nyata ataupun di dunia maya. Sebagian setuju, sebagian tidak setuju. Kalau diminta argumen yang menguatkan kedua pandangan tersebut, amboi amboi, terlampau banyaklah argumen yang didapati. Ada yang melihat dari fakta sejarah, lalu dari fakta-fakta lain juga ada.
Dari Tuanku Sultan sendiri, Tuanku berkata bahwa ia sebenarnya sudah tidak ingin lagi mencalonkan diri sebagai gubernur DIY dan hanya ingin sampai 2x masa jabatan saja. Masa jabatan Tuanku sendiri sebagai gubernur (bukan sebagai Sultan) bermula dari tahun 1988, mendahului awal jabatannya sebagai Sultan Yogyakarta. Tuanku pula, dari berbagai sumber berita yang aku dapatkan, mempersilakan siapapun untuk menjadi gubernur DIY. Meminjam istilah dari bahasa Jawa, Tuanku Sultan sudah legowo, berbesar hati.
Masalah sebenarnya muncul daripada perkataan Presiden SBY yang berhubungan dengan RUU Keistimewaan DIY dan penetapan Tuanku Sultan sebagai gubernur. Presiden meminta agar Yogyakarta disamakan dengan wilayah lainnya, gubernur dipilih langsung sehingga demokratis. Lanjut beliau, sistem monarki yang ada di Yogyakarta berbenturan dengan demokrasi.
Terang saja ini menuai kecaman. Perkataan "monarki" itu, seakan-akan mengesankan bahwa "ada negara di dalam negara". Berarti, presiden memandang Yogyakarta sebagai "ancaman" bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia" karena statusnya sebagai daerah istimewa.
Lalu perkataan lain "bertentangan dengan demokrasi". Memangnya selama ini keberadaan DIY bertentangan dengan demokrasi??? Aku pikir tidak juga. Nah, di sinilah muncul ambigu. Demokrasi yang dipahami segelintir pihak disamakan dengan demokrasi ala Barat sana, yang mungkin saja tak sesuai dengan tata tertib yang berlaku di negara kita. Demokrasi di sini adalah demokrasi Pancasila, demokrasi terbatas dan terkoridor, bukan demokrasi yang "sedemokrasi-demokrasinya". Kalau selama ini keberadaan DIY tidak bertentangan dengan UU, ya sudah. Berarti sehaluan dengan demokrasi.
Sampai-sampai muncul tudingan bahwa Partai Demokrat, partai yang kini berkuasa, sudah haus kekuasaan sehingga ingin menguasai wilayah DIY. Memang, aku tak berani menuding seperti itu, tapi itu tudingan beberapa orang yang menulis di blog atau ikut berdiskusi denganku di berbagai forum. Tapi kalau tudingan itu ternyata benar, sungguh memalukan. Pejabat-pejabat kita makin lama makin mendewakan kekuasaan. Get lose you all...

Sikap warga Yogyakarta sendiri beragam. Ada yang setuju di Yogyakarta digelar pemilihan gubernur langsung, ada juga yang tidak. Ada yang minta Tuanku Sultan jadi gubernur sampai akhir hayat. Macam-macam.
Aku pribadi, walaupun bukan warga Yogyakarta dan tak ada kena-mengena dengan daerah itu, adalah seorang pengagum Tuanku. Banyak hal yang Tuanku lakukan selama menjadi Sultan dan menjadi Gubernur DIY. Ia adalah raja favoritku ke-dua di dunia. Nomor satu adalah Tuanku Paduka Raja Bhumibol Adulyadej dari Thailand.
Jadi, aku tak rela kalau kepemimpinan DIY pindah ke tangan lain, kecuali Tuanku Sultan mangkat. Berkaca dari hasil pemilihan langsung di berbagai daerah, tak ada hasil nyatanya. Pemilihan kepala daerah hanya jadi ajang berebut kekuasaan dan permainan uang. Masa kampanye, obral janji. Begitu terpilih, lupa janji. Hanya sedikit kepala daerah yang bekerja optimal bagi rakyatnya, sebagian besar hanya akan membuat kita geleng-geleng kepala. Imbas dari demokrasi yang salah.
Coba lihat Yogyakarta. Sebuah kota yang, wah, nilai positifnya sudah bergaung ke serata dunia. Kota yang nyaman, kota wisata, tenang, aman, tidak banyak ribut, angka korupsi rendah. Kalau gubernur berganti, aku tak yakin Yogyakarta akan tetap seperti sekarang.
Teman-temanku dari Yogyakarta pun hampir semuanya mendukung Tuanku Sultan untuk jadi gubernur seperti sekarang. Mereka juga mengatakan, orang luar Yogyakarta banyak menganggap orang Yogyakarta itu budak kampung, aneh, merepek, menyimpang, macam-macam lah. Tapi tolong orang luar Yogyakarta pahami dulu, mengapa orang tempatan tetap menyokong Tuanku Sultan, termasuk memahami juga situasi yang terjadi masa ini di Yogyakarta. Keistimewaan Yogyakarta memang begitu terasa. Aku yang bukan orang Yogyakarta pun dibuat terpana olehnya.

Ini hanya pandangan pribadiku. Aku mohon maaf kalau mungkin ini akan membuat beberapa pihak sakit hati. Silakan tulis komentar, tapi jangan debat di sini. Ada tempat lain untuk debat. Ini hanya sedikit pandangan dariku yang cukup buta akan politik dan perundang-undangan, tapi punya visi yang jauh ke depan untuk negara kita tercinta, Indonesia.

Pindah Haluan...

Kalau kemarin-kemarin aku cerita yang aku memakai distro Ubuntu, sekarang sudah tidak lagi. Kini pilihanku jatuh pada distro lain yang menarik dan juga tidak kalah hebat dengan distro-distro lain : OpenSUSE.
Orang-orang pasti akan menganggapku aneh. Kepindahanku dari Windows ke Linux (Ubuntu) saja sudah dianggap aneh, apalagi kepindahanku yang ini. Gila mungkin. Ah, berlebihan rasanya. Orang kata aku aneh silakan, aku memang aneh. Hihihihihi.
Memang, menurut perkataan beberapa orang senior, sebaiknya kita mencoba berbagai macam distro Linux lalu memilih sendiri yang mana satu yang menurut kita cukup nyaman untuk digunakan. Tapi jangan semua lah. Distro Linux di jagat raya ini berlimpah-ruah. Hanya saja, aku sempat takut kalau-kalau komputer aku rusak karena terlalu sering berganti-ganti OS. Ternyata tidak juga. Jadi, kalau ada yang bilang komputer kita bisa rusak karena terlalu sering berganti OS, tak usah percaya.
Lagipun kita manusia sewajarnya punya rasa jenuh. Kalau pakai Ubuntu terus, rasanya tak kena. Mesti coba lagi dengan yang lain. Coba Fedora, sudah pernah, ternyata cukup sulit. Mandriva juga sudah coba. Agak mudah, tapi untuk koneksi internet agak pelik. Coba, coba, coba, dan coba, dapat juga. Pilihan jatuh ke OpenSUSE, sebuah OS buatan Jerman yang umurnya boleh dikatakan lebih tua dari Ubuntu.

Tampilan desktop OpenSUSE 11.3 KDE. Klik gambar untuk tampilan lebih besar.

Mengapa OpenSUSE, bukan yang lain??? Karena menurutku OpenSUSE ini berada pada kategori "menengah" dari berbagai macam aspek. Jumlah pengguna??? OpenSUSE tidak terlalu ramai penggunanya, tapi juga tidak terlalu sedikit. Ada yang bilang rangking ke-4 di dunia, ada juga yang bilang ke-3, ke-5, tak tahu pasti. Artinya apa??? Banyaknya pengguna biasanya berbanding lurus dengan banyaknya aplikasi yang ditawarkan untuk OS tersebut. OS yang jarang penggunanya juga akan ditawari sedikit aplikasi, dan ini jelas menyulitkan.
Tingkat kesulitan??? Tengah-tengah juga. Tak terlalu mudah, tak terlalu sulit. OpenSUSE cukup pas untuk pemula, walaupun aksesnya memang tidak semudah Ubuntu.
Kelebihan yang terutama sekali daripada OpenSUSE adalah YaST. Apa itu YaST??? YaST itu adalah sebuah administrator settings, sebuah program yang mengatur segala macam serba-serbi di dalam komputer. Boleh disamakan dengan Control Panel pada Windows. Ubuntu tak punya ini. Jadi, kita mau install program, install hardware (perangkat keras), setting internet, semua tercakup di YaST ini. Akses ke berbagai menu di YaST pun tergolong mudah.
Apa lagi kelebihannya??? Repository DVD. Macam-macam aplikasi mendasar yang kita butuhkan sudah ada di dalam DVD, misalnya aplikasi editing gambar, video, pemutar musik, dan lain-lain. Termasuk juga wvdial dan usb-modeswitch yang sangat aku butuhkan agar bisa terkoneksi melalui modem 3G yang aku punya. Kalau tidak, macam Ubuntu dulu, terpaksa pinjam modem kawan atau download di warnet. Capek deh, kata anak muda zaman sekarang.
Cuma ada sedikit yang terpaksa di-download dari internet, seperti Restricted File Formats (mp3, avi, dan kawan-kawan). Format seperti ini berlisensi, artinya tidak gratis, jadi tidak disertakan langsung dalam DVD. Tapi download gratis, tidak dipungut biaya. Yah, itulah resikonya memakai OS gratis.

DVD ISO Linux berisi file instalasi penuh, termasuk setting desktop. Ada GNOME, KDE, LXDE, dan Xfce. Yang default itu KDE. GNOME juga ada, tapi aku tidak menyarankan karena tampilannya kurang cantik dan terlalu jauh jika dibandingkan dengan GNOME pada Ubuntu atau Fedora. KDE memang cukup cantik dan membuatku jatuh hati, walaupun memang membuat kinerja PC cukup menurun. Lalu kenapa aku tak pakai Kubuntu saja??? Alah, sama saja pun dengan Ubuntu nanti.
Di mana bisa di-download??? Macam-macam tempat ada, tapi aku menyarankan di sini dan di sini. Cukup besar ISO-nya, sekitar 3 GB.
Demikianlah saja pengalamanku memakai OpenSUSE selama beberapa hari ini. Jangan lupa coba juga distro Linux yang lain. Apapun distronya, pakailah Linux, bukan yang lain!!!

Apa Terjadi Ni???

"Apa terjadi ni???" Begitulah kurang lebih kalimat keheranan yang terucap dari banyak mulut penduduk Indonesia.
Bayangkanlah, bertubi-tubi bencana demi bencana menimpa negara ini. Beberapa waktu lalu bencana menerpa Wasior, Papua Barat. Selanjutnya, gempa dan tsunami menerjang Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Pada hari yang sama, ibukota negara, Jakarta, dilanda banjir dahsyat yang melumpuhkan aktivitas warganya. Dan terakhir, Gunung Merapi, pusat kosmologi masyarakat Jawa yang cukup dikeramatkan itu, memuntahkan laharnya dan menghabisi nyawa ratusan orang serta melahap ribuan rumah dan harta-hartanya.
Cukup mengenaskan sebenarnya. Oh, bukan cuma itu bencana yang ada di negara kita sekarang ini, tapi juga "bencana" lain. Ketika bencana melanda, anggota Sri Dewan negara kita malah "pelesir" ke negara-negara luar. Dan yang terbaru, Gubernur Sumatera Barat malah berangkat ke Jerman untuk memenuhi agendanya. Apakah elok, ia bergembira ria dan bergegap gempita sedangkan warga di Mentawai, wilayah jajahannya sendiri, terlunta-lunta akibat dampak tsunami???

Ada apa ini??? Atau cakap Melayu kampung, "Apa terjadi ni???". Kenapa semua ini bisa terjadi??? Simpel saja : negara kita adalah negara yang rawan bencana.
Itu saja??? Jelas. Tak usah dengarkan orang-orang yang bilang kalau negara kita akhir-akhir ini ditimpa bencana karena Tuhan sedang murka, atau karena manusia sudah keterlaluan, manusia sudah tidak bersahabat dengan alam, atau karena korupsi merajalela di negara kita, dan lain lain lain lain lain lain lain lain(tak terhingga)-nya. Apalagi kalau menghubungkan dengan hal-hal yang berbau klenik, mistis, tidak masuk akal, sudahlah. Tak guna.
Lalu sebagai manusia yang ber-Tuhan dan beriman, kita mesti bertanya-tanya, kenapa Ia memberikan ujian ini semua kepada kita??? Aku bukan Tuhan, dan aku juga tak bisa mendengar suara Tuhan, jadi aku tak tahu. Tapi, mungkin saja sebenarnya :

  • Tuhan ingin mengingatkan kita bahwa kita sekarang tinggal di negara Indonesia, sebuah negara yang dijuluki sebagai "ring of fire" atau "cincin api". Tempat di mana gunung berapi berbaris, tempat di mana 3 kerak benua bertemu, dan keduanya memiliki hubungan yang terkait. Jadi, kita harus bersiap dan waspada.
  • Tuhan ingin menunjukkan kekuasaan dari alam yang Ia ciptakan. Bahwasanya alam tidak selalu seperti yang kita bayangkan. Daratan tidak selalu diam, lautan tidak selalu tenang seperti kaca. Alam juga melakukan proses seperti halnya makhluk hidup, walaupun pasif.
Jadi, sekarang apa yang harus kita lakukan??? Jelaslah, bantu mereka!!! Bantu saudara-saudara kita yang tertimpa musibah, dalam bentuk apapun. Bisa dalam bentuk uang atau benda konkrit langsung, misalnya pakaian, selimut, dan lainnya, tapi dua itu aku rasa penting untuk mereka. Cara lain, jadi relawan langsung ke lokasi bencana. Jangan lupa, mereka juga membutuhkan bantuan secara psikis. Mereka juga butuh penguatan karena mental mereka sudah jatuh saat bencana terjadi.
Bagi kita yang lain, ada baiknya kita bersiap siaga, karena gempa bumi dan gunung meletus itu sebenarnya cukup dekat dengan kehidupan kita. Akhir-akhir ini sudah banyak lembaga yang mengadakan simulasi gempa mendadak. Semestinya demikian. Begitu juga kita memerlukan pedoman dan pengarahan mengenai kesigapan bencana. Untuk hal ini, kita harus mencontoh Nippon yang cukup sigap dalam menghadapi bencana, karena memang negara tersebut pun rawan bencana. Mungkin masalah kesigapan ini juga perlu dimasukkan dalam kurikulum sekolah. Teknologi ke-bencana-an juga harus dioptimalkan.

Pada kesempatan ini, izinkan aku menyampaikan sedikit kegundahanku. Ada orang yang aku khawatirkan di tengah bencana ini.
Mereka adalah keluarga yang menjadi keluarga angkatku selama 5 hari pada 2 tahun silam di daerah Desa Krinjing, Kec. Dukun, Kab. Magelang. Masa itu, aku dan kawan-kawan sekolahku mengikuti rancangan tinggal di desa untuk lebih dekat dengan masyarakat kita. Aku, bersama seorang temanku yang lain, tinggal di dalam keluarga tersebut dan aku merasa sudah seperti bagian dari keluargaku sendiri. Tidur sebantal, makan sepinggan.
Nama kepala keluarga itu adalah Bapak Purwowinarto. Istri beliau bernama Ibu Daryatni. Mereka berdua memiliki 2 orang anak yang sudah berumahtangga dan tak tinggal bersama mereka lagi, dan satu anak bungsu mereka bernama Barnabas Yuswardi yang masih tinggal bersama mereka. Mereka tinggal di Dusun Dadapan, Desa Krinjing, Kec. Dukun, Kab. Magelang. Alamat persisnya aku tak tahu.
Ketika aku mendengar kabar meletusnya Gunung Merapi, jujur, pikiranku langsung tertuju kepada keluarga ini. Aku betul-betul mengkhawatirkan mereka. Berita di media massa sepertinya tak meliput keadaan di wilayah itu. Aku cari-cari telepon gereja (Gubug Selo Merapi) yang dahulu menyelenggarakan rancangan tinggal di desa itu, juga tak dapat.
Bagi sesiapa yang tahu kabar mereka, atau mungkin kenal mereka, tolong bantu aku. Silakan tulis di komentar postingan ini atau di shoutbox. Aku ucapkan terima kasih dan sembah sepuluh jari atas bantuannya.

Hello Stranger...

Sudah lama tak menulis. Yah, akhir-akhir ini sedang senang menonton filem. Terakhir di BlitzMegaplex Paris Van Java, Bandung, ada filem menarik yang cukup menarik. Produksi, Thailand. Tajuknya, "Hello Stranger" atau "Kuan Meun Ho".

Tentang apa ceritanya? Aku tak akan jelaskan secara lengkap. Karena filem ini masih tayang di bioskop, sebaiknya pergi ke bioskop terdekat. Jadi intinya tentang virus drama Korea atau K-Wave yang melanda negara gajah putih ini (sepertinya virus serupa juga mulai melanda negara kita). Seorang gadis, sebut saja namanya May (kenapa sebut saja? dari awal sampai akhir ia tak mengungkapkan siapa namanya), terkena penyakit tersebut. Kebetulan ia mendapat kesempatan untuk melancong Korea.
Di lain tempat, seorang bujang, sebut saja (lagi-lagi sebut saja) namanya Darng, juga mendapat kesempatan untuk melancong ke Korea. Sayangnya, ia tidak terkena virus K-Wave dan menganggap semua drama-drama Korea yang romantis itu adalah hal-hal yang konyol. Darng pergi dengan rombongan wisata dari Thailand. Agenda tour-nya adalah pergi ke objek-objek wisata yang populer melalui drama Korea itu, dan Darng tidak menikmatinya.

Secara tidak sengaja, mereka berdua bertemu. Waktu itu, Darng tersesat dan tidak menemukan jalan pulang ke hotel tempat ia menginap. Perasaan kasihan (dan mungkin saja perasaan sebangsa di negeri orang) membuat May tergerak untuk menolong Darng, tapi May salah menunjukkan lokasi hotel dan perjalanan makin tak jelas. May pun mengizinkan Darng berjalan-jalan keliling kota Seoul dengannya, satu hari saja. Darng kurang menikmati perjalanan tersebut, karena seperti biasa, perjalanannya pasti yang berhubungan dengan romantisme drama-drama Korea yang tentu saja dianggap sepele oleh Darng.
Lalu, apa yang terjadi? Sesuai perjanjian, cerita komplit takkan aku ceritakan. Silakan tebak sendiri, atau lebih tepatnya, silakan tonton sendiri. Yang pasti, filem ini menurutku cukup "disarankan" untuk ditonton.
Salah satu kekuatan filem ini adalah humor-humor lucu yang tersirat di dalamnya. Memang, pada umumnya genre filem ini adalah komedi romantis. Cinta bercampur lawak. Humor-humor yang digambarkan Darng selama perjalanan di Korea, mengingatkanku pada lawakan Sule di Opera Van Java.
Tapi bukan cuma itu, beberapa adegan membuat kita menitikkan air mata karena memang kisah-kisah romantisme seperti drama biasanya, turut tergambar di sini. Selain itu, kekuatan cerita dalam filem ini sepertinya cukup luar biasa. Sampai saat ini, aku terbayang-bayang terus akan cerita di filem ini. Oh, bukan cuma kuatnya, tapi keunikannya. Sutradara filem ini pintar mengangkat fenomena yang terjadi di beberapa negara pada masa ini, yaitu fenomena K-Wave atau Hallyu. Tidak seperti kebanyakan filem Indonesia atau Malaysia yang ceritanya "itu itu terus", filem ini punya cerita yang unik.
Yang aku kecewa, endingnya. Mungkin bagi beberapa orang, bagus, tapi untukku tidak. Sampai detik-detik terakhir filem itu, May dan Darng tidak kenal satu sama lain. Tapi mungkin saja, sutradara ini sengaja membuat para penontonnya terbayang tentang filem ini, seperti aku.

Ada beberapa pesan yang ingin disampaikan filem ini. Salah satunya, "ke-tidak kenal-an" justru akan membuat kita terasa lebih rileks. Kalau kita kenal, mungkin saja akan canggung untuk mengutarakan apa yang saat ini kita alami, rahasia yang kita simpan yang orang lain tak tahu, dan berbagai macam luahan rasa hati.
Contoh simpel, ya blog ini. Aku tak menunjukkan siapa diriku sebenarnya. Aku siapa, tinggal di mana, hanya boleh diketahui oleh orang-orang tertentu. Tapi dengan metode ini, aku justru lebih bebas menulis dan lebih tenang, tanpa ada intervensi dari pihak manapun. Aku tak perlu akan ada pihak yang merasa dendam, dengki, atau tersinggung dengan apa yang aku katakan, karena para pembaca tak kenal aku.
Contoh lain, forum internet. Di forum internet, hampir tak pernah mengungkapkan siapa kita sebenarnya, siapa nama asli kita, orang-orang jelas tidak akan mau mengungkapkannya. Tapi justru karena itu, kita jadi lebih bebas bersembang dan bersenda, meluahkan rasa hati, mengungkapkan pendapat sesuai dengan Pasal 28 UUD negara kita. Tanpa ada intervensi dari pihak manapun. Aku sampai sekarang senang join di berbagai forum. Terkadang, lebih mudah berkenalan di dunia maya daripada di dunia nyata.
May tak kenal Darng, dan Darng tak kenal May. Tapi tanpa malu-malu, mereka saling bertukar pikir masing-masing dan mengungkapkan apa yang terjadi pada diri mereka, hingga akhirnya ada rasa yang tersembunyi di antara mereka. Akhirnya, sampai mereka berpisah di Seoul, May tak mau menyebutkan namanya pada Darng, karena ia berpikir seperti itu akan lebih baik. Kupikir, May benar.
Bagaimanapun, filem ini sayang untuk dilewatkan. Kalau DVDnya dah dijual, aku akan beli atau download dari internet. Nilaiku untuk filem ini 9 dari 10. Semoga sineas kita tergerak membuat filem-filem yang inspiratif, punya cerita yang unik, berkelas, dan tidak membosankan seperti filem "Hello Stranger" ini. Khop chai, lah kon nah, sampai jumpa di tulisanku berikutnya.

Oh iya, jangan lupa berkunjung ke laman resminya : guanmuenho.com.