Ada perasaan tak enak dalam hatiku kalau orang-orang yang lebih muda dariku memanggilku "kakak". Aku lebih senang dipanggil "abang". Lebih senang lagi kalau dipanggil "mas" atau "kangmas", karena sesuai tradisi Jawa (walau aku bukan Jawa), apabila orang yang lebih tua memanggil kita dengan sebutan "kangmas", artinya orang tersebut respect terhadap kita. Tapi aku tetap keberatan kalau dipanggil "kakak". Ada dua alasan :


  1. Dalam perbendaharaan kata bahasa Melayu asli, kata "kakak" hanya digunakan untuk memanggil perempuan yang lebih tua dari kita, tetapi masih sepantaran. Tentu saja karena aku lelaki, aku keberatan dipanggil "kakak". Kata bahasa Melayu yang benar untuk memanggilku adalah "abang". Entah mengapa dalam bahasa Indonesia, entah laki-laki entah perempuan dua-duanya disebut "kakak", dengan membedakan antara "kakak laki-laki" dan "kakak perempuan". Padahal jelas salah. Aku sedang mencari penjelasannya lebih lanjut. Sedangkan di Malaysia, kata "abang" dibakukan.

  2. Sebagai orang yang terlahir dari keluarga Batak Toba, sudah tradisi adik-adikku memanggilku "abang". Kata "abang" dan "kakak" memang semakin sering dipakai di dalam masyarakat Batak, walaupun bahasa Batak juga memiliki kata yang tepat, yaitu "angkang" (baca : akkang) untuk abang/kakak sejenis kelamin, dan "iboto" untuk abang/kakak ataupun adik yang berbeda jenis kelamin. Untuk adik sejenis kelamin, pakailah kata "anggi".


Demikianlah kenapa aku keberatan dipanggil "kakak". Waktu aku SMA, kalau adik kelas memanggilku "kakak", aku langsung bilang "Tolong ya, jangan panggil aku 'kakak', aku kurang enak hati,". Tapi kalau dipanggil "abang", "aa" (di Jawa Barat), "kangmas", atau "koko" (di kalangan orang Tionghoa), aku tak keberatan, karena padanannya pas. Begitu juga untuk siapapun yang menyapaku, mohon dengan sangat, jangan panggil aku "kakak".